Pasuruan

Tradisi Mantenan Sapi dan Kambing di Pasuruan, sebagai Syiar Islam dan Merayakan Idul Adha

Tradisi Mantenan Sapi dan Kambing di Pasuruan, sebagai Syiar Islam dan Merayakan Idul Adha

Penulis: Galih Lintartika | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Galih Lintartika
Tradisi Mantenan Sapi dan Kambing di Pasuruan, sebagai Syiar Islam dan Merayakan Idul Adha 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Puluhan hewan kurban baik itu sapi atau kambing dirias secantik dan seganteng mungkin oleh masyarakat Desa Sebalong, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Rabu (22/8/2018) siang.

Hewan kurban ini memang sengaja dirias oleh warga setempat. Ini salah satu cara melestarikan budaya dan tradisi yang sudah dilakukan sejak dulu kala oleh masyarakat setempat saat Hari Raya Idul Adha setiap tahunnya.

Tradisi itu bernama Mantenan Sapi dan Kambing. Jadi, sapi dan kambing yang akan dikurbankan dimandikan dan dirias. Mereka dihias menggunakan bunga-bunga dan diberi pewangi layaknya seorang manten, atau istilah lain dari pernikahan.

Nah, setelah itu, sapi dan kambing dikumpulkan di lapangan terlebih dahulu sebelum disembelih.

Selanjutnya, sapi dan kambing diarak keliling desa. Sapi dan kambing ini diarak dan dipamerkan ke masyarakat. Tak hanya sapi, dan kambing, masyarakat pun juga ikut berkeliling. Mereka membawa berbagai kebutuhan dapur, beras, minyak goreng, bumbu-bumbu hingga kayu bakar pun juga ikut diarak.

Semua bawaan itu juga akan diberikan kepada warga yang tidak mampu bersama dengan daging hewan kurban. Berkurban dan membantu sesama, adalah pesan yang terkandung dalam tradisi ini.

"Jadi bukan hanya membagikan dagingnya saja. Tapi kami siapkan juga beras, bumbu , minyak dan lainnya. Jadi bagi warga yang tidak mampu bisa langsung memasaknya. Tidak bingung, dapat daging tapi tidak bisa memasaknya. Makanya disiapkan semuanya," kata M Ilyas, tokoh setempat.

Tradisi inilah yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat, hingga saat ini. Selain menjadi syiar islam, tradisi turun-temurun itu juga menjadi pengingat warga lain yang mampu, agar berkurban pada Idul Adha.

"Tradisi manten sapi ini sudah ratusan tahun, konon sejak kakek saya masih kecil sudah digelar. Tujuannya untuk syiar Islam dan memotivasi warga untuk bersedekah dengan membantu sesamanya,” kata Muhammad Yasin, masyarakat Desa Sebalong, lainnya.

Ia menjelaskan, di sini, semua orang memahami, bahwa hewan yang dikurbankannya saat Idul Adha, akan menjadi tunggangan mereka saat di akhirat nanti. Tentu saja mereka berkeinginan tunggangan itu nyaman dan enak dikendarai jika dalam kondisi bersih dan rapi.

“Seperti didunia ini, mengendarai mobil inginnya mobil itu bagus dalamnya harum, sehingga enak dan nyaman dikendarai. Sama dengan sapi yang dikurbankan saat Idul Adha, dimandikan agar suci dan sehat, diselimuti sorban serta diberi bunga agar sapinya harum. Saat diakhirat nanti, penunggangnya bisa gagah,” tambahnya.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved