Kediri

Ibu di Kediri Merantai Kaki Anaknya setelah Suami Jual Rumah dan Minggat

Rantai itu disambungkan dengan beton cor yang ditanam di tanah. Masing-masing kaki yang dirantai dipasang gembok yang terlihat sudah mulai berkarat.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: yuli
didik mashudi
PEMASUNGAN - Heris Krisdianto (25) dan ibunya Surati (54) yang memasung dengan cara merantai kaki anaknya karena khawatir mengamuk dan mengganggu tetangganya, Minggu (2/8/2018). Mereka warga Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Pemasungan manusia masih terus terjadi meski sudah banyak yang dibebaskan oleh pemerintah.

Kali ini, pemasungan itu menimpa Heris Krisdianto (25), warga Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri

Ia dirantai oleh ibunya, Surati (54), yang khawatir anaknya mengamuk dan mengganggu tetangganya. 

Pantauan SURYAMALANG.COM, , Minggu (2/8/2018), kondisi Heris cukup memprihatinkan. Meski masih dapat bergerak namun tidak leluasa. Apalagi rantai yang membelenggu kedua kakinya panjangnya hanya sekitar satu meter.

Rantai itu disambungkan dengan beton cor yang ditanam di tanah. Masing-masing kaki yang dirantai dipasang gembok yang terlihat sudah mulai berkarat.

Termasuk rantai yang melingkar di kedua kaki Heris juga sudah dalam kondisi berkarat.

Malah kulit Heris juga ada yang lecet akibat gesekan dengan rantai. Praktis seharian Heris menghabiskan waktunya di ruang ukuran 4 x 4 meter.

Di ruang itu hanya tersedia tikar kumal yang dipakai Heris tidur. Termasuk saat buang air besar dan buang air bersih dilakukan di tempat.

Heris sehari-hari hanya mengenakan sarung yang menutup tubuhnya.

Surati mengaku memilih merantai kedua kaki anaknya karena khawatir sewaktu-waktu anaknya mengamuk.

"Kalau sudah mengamuk saya tidak sanggup lagi mengatasi," ungkapnya.

Dijelaskan, anaknya sebenarnya pernah dirawat selama beberapa pekan di Rumah Sakit Jiwa Lawang, Malang. Kemudian dibawa pulang lagi, namun gangguan jiwanya kembali kambuh dan suka mengamuk dan berteriak-teriak.

Dijelaskan, gangguan jiwa anaknya mulai muncul setelah suaminya, Sujiono, menjual rumahnya. Tahu rumah yang ditempati dijual, Heris akhirnya mengamuk dan sempat merusak perabot rumah.

Sedangkan Sujiono saat ini minggat atau pergi tanpa pamit dan tidak mau merawat lagi bertanggung jawab sehingga hanya Surati sendirian yang mengasuh anak dengan gangguan kejiwaan.

"Dulu sebenarnya tidak sampai parah, namun setelah lulus SMP dan tahu rumahnya dijual ayahnya membuat dia sering stres. Daripada mengganggu tetangga dan mengamuk kakinya kami rantai," ungkapnya.

Apalagi konsumsi obat juga tidak secara rutin diterima dari petugas medis. Perempuan itu hanya berharap ada lagi petugas yang membawa anaknya untuk dirawat lagi di RSJ Lawang.

"Mudah-mudahan ada yang membantu membawa ke rumah sakit lagi. Saya ingin anaknya sembuh," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved