Banyuwangi
Arak-arakan 25 Tumpeng Meriahkan Festival Grebeg Suro Banyuwangi
Sebanyak 25 tumpeng raksasa diarak menyambut datangnya tahun baru 1440 Hijriyah sepanjang tiga kilometer
Penulis: Haorrahman | Editor: Achmad Amru Muiz
SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Festival Grebeg Suro yang digelar di Pekulo Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah. Sebanyak 25 tumpeng raksasa diarak menyambut datangnya tahun baru 1440 Hijriyah. Ribuan masyarakat memadati rute arak-arakan sepanjang tiga kilometer.
"Ini merupakan tradisi tahunan masyarakat Pekulo untuk memperingati satu suro atau datang tahun baru hijriyah," kata Andre Subandrio, Ketua Panitia Festival Grebeg Suro saat prosesi pemberangkatan, Senin (10/9).
Tak sekadar perayaan, menurut Andre, Grebeg Suro juga bertujuan untuk memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan keselamatan dan keberkahan bagi daerah tersebut.
"Leluhur kami mengajarkan demikian untuk membersihkan kampung dari bala, musibah dan marabahaya," ujar Andre.
Andre bercerita, awalnya tradisi suroan hanya dilakukan secara individu di rumah masing-masing. Sejak 2012, tradisi suroan tersebut dibuat secara serempak satu kampung. Mereka membuat tumpeng dari dua jenis. Ada yang berupa tumpeng nasi kuning atau putih dan ada pula yang berupa tumpeng dari palawija (sayur mayur).
"Agar persatuan dan kebersamaan warga kampung semakin kuat," katanya
Untuk tumpeng yang terbuat palawija, terang Andre, bakal diperebutkan di ujung arak-arakan. Masyarakat Pekulo meyakini, jika mendapatkan bagian dari tumpeng tersebut, bakal mendapatkan keberuntungan satu tahun ke depan.
Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko yang membuka acara tersebut, mengapresiasi grebeg suro yang setiap tahunnya semakin meningkat.
"Acara kali ini ada peningkatan. Kami berharap tahun depan makin meriah dan luas pelaksanaannya," kata Yusuf.
Lebih dari itu, Yusuf berharap kepada segenap masyarakat tidak sekadar melestarikan tradisi leluhur tersebut. Namun, juga kembali mengingat nasehat-nasehat para leluhur.
"Ada banyak nasehat dari para leluhur kita, yang harus tetap kita pelajari dan kita amalkan dalam kehidupan kita," harapnya.
Salah satu nasehat tersebut, adalah "urip iku urup". Secara bahasa, artinya orang hidup harus menyala.
"Maksudnya, dalam kehidupan ini, kita harus menjadi pribadi yang "menyala" - bermanfaat. Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi masyarakat luas," tutur Yusuf Widyatmoko..
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/tumpeng-grebek-syuro-banyuwangi_20180910_213007.jpg)