Travelling
Diklaim yang Pertama di Indonesia, Museum Reenactor Hadir di Kota Malang
Yaitu sebuah Museum Reenactor yang berada di Kelurahan Sumbersari, Lowokwaru, Kota Malang
Penulis: Benni Indo | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Tujuan wisata baru hadir di Kota Malang. Yaitu sebuah Museum Reenactor yang berada di Kelurahan Sumbersari, Lowokwaru, Kota Malang. Museum itu diklaim menjadi museum reenactor pertama di Indonesia.
Museum itu dibangun dengan bergaya kolonial di dekat sebuah kuburan di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Bangunannya berukuran 8x10 meter persegi. Di depan bangunan berkibar bendera Merah Putih.
Bangunan itu berbeda dengan bentuk rumah lainnya yang berada di sekitar. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang datang berkunjung ke sana.
Kata reenactor sendiri mungkin masih terdengar asing di telinga banyak orang. Reenactor adalah sebutan kepada orang-orang yang menyukai kegiatan reka ulang sejarah. Kegiatan yang mereka lakukan biasanya berupa teatrikal reka ulang sejarah yang tertulis secara otentik dalam catatan sejarah.
Seorang pengelola museum yang juga anggota Komunitas Reenactor Malang, Mohammad Fariz (43) menjelaskan, Komunitas Reenactor Malang adalah suatu komunitas yang bergerak mengulas sejarah perjuangan. Khususnya perjuangan pahlawan untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Komunitas ini banyak berbagi informasi terkait cerita sejarah perjuangan di Kota Malang sendiri. Pasalnya, banyak warga Kota Malang yang ternyata tidak mengenal sejarah Kota Malang. Berawal dari komunitas yang didirikan pada 2007 ini, digagaslah Museum Reenactor Malang pertama di Indonesia.
Padahal saat itu cerita awalnya adalah sebagai ajang lomba kampung tematik di Kota Malang. Namun gagasan museum itu menjadi nyata, bahkan museum itu beridiri di atas lahan Pemkot Malang. Pemkot Malang membangun museum itu pada 2017 akhir dan rampung dibangung pada Januari 2018.
“Kami awalnya terbentuk dari sama-sama suka belajar sejarah. Kedua, karena prihatin sejarah semakin lama semakin banyak yang tidak tahu,” kata Farid, sapaan akrab Mohammad Fariz.
Farid dan kawan-kawannya memiliki tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat Kota Malang agar bisa mengenal sejarah kotanya sendiri. Ia mengatakan, sebetulnya banyak terjadi peristiwa heroik di Kota Malang. Termasuk di Sumbersari, tempat berdirinya museum.
“Namun banyak yang tidak tahu. Itu seperti untold story. Seperti yang terjadi di Mergosono itu,” kata Farid.
Selain menampilkan refleksi perjuangan dalam negeri, di museum yang dulunya merupakan lahan TPS itu juga menampilkan pernak-pernik gambaran perang dunia kedua. Baik itu perang yang berkecamuk di Eropa maupun di Pasifik ketika Jepang berhadapan dengan Amerika Serikat.
Begitu masuk ke dalam museum, pengunjung langsung dibawa ke masa lalu. Bagaimana tidak, banyak barang-barang masa lalu yang dipajang di dalamnya. Sejumlah barang bahkan merupakan barang asli penginggalan pejuang seperti meja, kursi, serta sepeda kayuh.
Sedangkan yang lainnya hanya replika seperti senjata perang. Meskipun hanya replika, namun bentuknya sangat mirip. Dijelaskan Farid, barang replika yang dibuat berasal dari barang daur ulang.
“Bahannya dari paralon bekas, kemudian ada juga bekas onderdil kendaraan. Jadi kami manfaatkan barang-barang yang tidak terpakai,” ujarnya, Selasa (11/9/2018).
Saat berbincang dengan Surya, Farid menunjukkan barang peninggalan Jenderal Soemitro saat bertugas di Kota Malang. Barang-barang itu berupa gerobok, kursi, meja, sepeda dan koper besi. Soemitro pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon I di Malang.
Barang-barang itu didapat dari warga yang menyumbangkannya secara sukarela. Kata Farid, Soemitro dahulu pernah tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan museum itu. Saat itu, Soemitro memimpin perang gerilya menghadapi Belanda yang masuk ke Kota Malang.
“Di rumah itu, Soemitro menyusun strategi perang saat terjadi agresi militer,” kata Farid yang menjelaskan rumah tersebut berada di gang tiga kawasan itu.
Ditambahakn Farid, Malang saat itu dikuasai Belanda pada dekade 1947-1949. Mayor TNI Hamid Roesdi, atasan Soemitro saat itu menyuruh mundur ke beberapa daerah. Tapi masih ada Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang melakukan perlawanan. Markas GRK ada dua, yakni di Kota Malang dan Kabupaten Malang. Di Kota Malang, lokasinya berada di Sumbersari.
Seomitro dan pasukkannya selalu berangkat sebelum subuh dan pulang saat malam hari ke markas. Itu dilakukan setiap hari. Kehadiran barang-barang itu tentunya menjadi nilai sejarah tersendiri, khususnya bagi pengelola museum.
“Karena di sini kampung sejarah, kami adakan museum ini,” tegasnya.
Selain mendapatkan barang dari sumbangan warga, beberapa benda di dalam museum didapatkan dengan cara berburu sendiri. Pengelola museum berburu ke tempat-tempat rombengan untuk menemukan barang-barang bersejarah.
“Jadi kalau ke kota mana, terus datang ke pasar rombengan. Dibeli satu-satu, kemudian dirakit,” tutur Farid saat menjelaskan sebuah sepeda yang sering digunakan tentara Nazi di dalam museum.
Farid berharap, kehadiran Museum Reenactor Malang bisa memberikan nilai positif bagi masyarakat sekitar, khususnya para generasi muda. Edukasi sejarah kepada masyarakat merupakan upaya mengenalkan jati diri bangsa. Museum ini secara resmi akan diperkenalkan ke publik pada Jumat (14/9/2018) saat ada festival di kampung itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/mohammad-fariz-saat-berada-di-dalam-museum-reenactor-malang_20180911_145844.jpg)