Blitar

Satu Kecamatan Ada 200 ODGJ, Pemkot Blitar Bentuk Posko Kesehatan Jiwa Di Tiap Kelurahan

Posko kesehatan jiwa baru terbentuk di tiap kecamatan. Posko kesehatan jiwa ini menjadi tempat pemeriksaan dan penanganan ODGJ

Satu Kecamatan Ada 200 ODGJ, Pemkot Blitar Bentuk Posko Kesehatan Jiwa Di Tiap Kelurahan
suryamalang.com/Samsul Hadi
Para ODGJ berlatih membuat kerajinan dan menjalani pemeriksaan kesehatan saat mengikuti posyandu di kantor Kecamatan Sananwetan, Senin (15/10/2018) 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Pemkot Blitar sedang berupaya menekan angka orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Blitar. Salah satu upayanya dengan cara membentuk posko kesehatan jiwa di tiap kelurahan.

Wakil Wali Kota Blitar, Santoso mengatakan, jumlah ODGJ di Kota Blitar lumayan tinggi. Dia mencontohkan di Kecamatan Sananwetan. Menurutnya, jumlah ODGJ di Kecamatan Sananwetan lebih dari 200 orang. Data itu berdasarkan hasil pemeriksaan jiwa dari warga di Puskesmas Sananwetan.

"Kecamatan Sananwetan paling banyak jumlah ODGJ-nya dibandingkan dua kecamatan lain," kata Santoso, Senin (15/10/2018).

Santoso mendorong Dinkes Kota Blitar membentuk posko kesehatan jiwa di tiap kelurahan. Saat ini, posko kesehatan jiwa baru terbentuk di tiap kecamatan. Posko kesehatan jiwa ini menjadi tempat pemeriksaan dan penanganan ODGJ.

"Sekarang posko kesehatan jiwa baru ada di kecamatan. Tiap sebulan sekali, masing-masing posko mengadakan posyandu ODGJ. Ke depan, kami ingin tiap kelurahan ada posko-nya. Biar jumlah ODGJ di Kota Blitar bisa ditekan," ujarnya.

Camat Sananwetan, Heru Eko Pramono mengakui jumlah ODGJ di Kecamatan Sananwetan paling banyak di Kota Blitar. Sesuai data dari Puskesmas, jumlah ODGJ di Kecamatan Sananwetan mencapai 225 orang. Dari total itu, yang aktif berobat di Puskesmas sekitar 177 orang.

Selain berobat di Puskesmas, kata Heru, kecamatan sudah membuka posko kesehatan jiwa. Setiap sebulan sekali, posko kesehatan jiwa mengadakan posyandu ODGJ. Tetapi, pelayanan posyandu ODGJ masih terbatas hanya untuk 20 orang.

"Karena keterbatasan sarana dan tenaga, jumlah ODGJ yang ikut posyandu kami batasi 20 orang. ODGJ yang ikut posyandu kami pilih yang sudah bisa diajak komunikasi," kata Heru.

Saat mengikuti posyandu, para ODGJ dilatih cara hidup mandiri. Mereka diajari cara menyisir rambut, memasak, membuat kerajinan, bertani, dan berternak. Harapannya, ketika kejiwaannya mulai pulih, mereka bisa hidup mandiri tanpa menggantungkan ke orang lain.

Dikatakan Heru, sebenarnya perlu tempat khusus untuk penanganan ODGJ. Tempat khusus ini yang lebih tenang dan sepi. Sebab, emosi para ODGJ sering tidak stabil saat berada di tempat yang ramai orang.
"Selain itu, kami juga butuh kader jiwa yang militan untuk menangani ODGJ. Ini yang sulit, karena jarang ada orang yang secara sukarela mau mengurus ODGJ," ujarnya.

Soal tingginya jumlah ODGJ di Kecamatan Sananwetan, menurut Heru, diketahui setelah terbentuknya posko kesehatan jiwa di kecamatan. Dengan adanya posko, masyarakat mulai datang memeriksakan kejiwaannya. Dari situ kemudian terdeteksi orang-orang dengan ganggguan jiwa.

"Sebenarnya sudah lama ada, hanya saja dulu belum terdeteksi. Setelah ada posko, baru ketahuan jumlahnya," ujar Heru.

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved