Breaking News:

Malang Raya

'Brain Wash' ASN, Revolusi Mental ala Wali Kota Malang

Brain wash menjadi bagian dari 99 hari kerja Walikota Malang Sutiaji dan wakilnya Sofyan Edi Jarwoko. Brain wash dalam hal ini dimaksudkan untuk...

Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
Pemkot Malang
Wali Kota Malang, Sutiaji. 

Kyai Marzuki juga menyarankan agar Sutiaji berhati-hati kepada ASN yang suka setor muka. Sutiaji diharapkan tidak langsung puas begitu saja ketika ada bawahan yang setor muka.

“Kadang-kadang mentale ASN dikit-dikit sertor muka, yang begitu dikurangi. Pak Sutiaji juga, jangan puas kalau ada ASN setor muka,” tuturnya.

Kyai Marzuki menegaskan agar Pemkot Malang tidak berdiri sendiri. Ia berharap agar Sutiaji bisa sowan ke para kyai dan meminta petuah dari para kyai untuk kembaikkan Kota Malang.

“Yang penting bagaimana, Sutiaji dan ASN kembali seperti semula. Sowan-sowan ke Kyai, minta pendapat Kyai. Sejatinya masyarakat dalam kepemimpinan kyai lewat tangannya seorang santri,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Dua Himpunan Psikolog Cabang Malang Sayekti Pribadiningtyas menekankan agar para pejabat di lingkungan Pemkot Malang menikmati pekerjaannya sebagai seorang pelayan masyarakat. Menurutnya, jika pekerjaan itu dilakukan dengan hati yang senang, maka tidak akan ada beban psikolog.

“Sebenarnya tidak ada beban psikolog, karena ASN memang pekerjaannya pelayanan. Barangkali yang perlu ditingkatkan adalah persoalan integritas. Kalau kita memiliki integritas moral, secara otomatis kita bekerja itu sebagaimana kalau kita membutuhkan orang lain,” ujarnya.

Beban moral bagi seorang ASN adalah ketika dia tidak maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu, menurut Sayekti, hal-hal standar seperti senyum, sapa dan salam harus sering dibiasakan.

“Senyum salam sapa yang standar, itu kadang tidak semua orang bisa menerapkan dalam jam kerja. Sementara tuntutan di ruang kerja, kalau yang bersifat pribadi dikesampingkan dulu,” terangnya.

Ia juga mendorong agar Walikota Sutiaji bisa memberikan contoh langsung kepada bawahannya. Menurut Sayekti, seorang pemimpin seperti dalam jabatan walikota, selain melayani masyarakat juga melayani bawahannya.

“Ketika pimpinan itu menunjukkan satu contoh yang positif, aura positif itu secara otomatis mengikuti bawahannya. Jangan segan memotivasi, tidak sekadar kata-kata dan himbauan, pimpinan harus turun ke bawah,” kata Sayekti. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved