Breaking News:

Malang Raya

Sepanjang Tahun 2018, 223 Kasus Bencana Melanda Kota Malang

Akibat bencana tersebut membuat rusaknya fasilitas umum yang ada di Kota Malang dan menyebabkan korban jiwa maupun korban luka.

surya/hayu yudha prabowo
Bencana Banjir Kota Malang 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Sebanyak 223 kasus bencana melanda Kota Malang di sepanjang tahun 2018. Hal tersebut merupakan kejadian bencana terbanyak yang melanda Kota Malang dalam empat tahun terakhir.

Dari data BPBD Kota Malang, pada tahun 2015 ada 100 kejadian bencana, di tahun 2016 ada 108 kejadian dan di tahun 2017 ada 192 kejadian.

"Jumlah kejadian bencana sedikit ada kenaikan sekitar 16 persen dari data tahun 2017 yang hanya 192 kejadian," kata Tri Oky Rudianto, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Malang saat dihubungi SURYAMALANG.COM, Selasa (1/1/2019).

Dari catatan akhir tahun, Oky menyampaikan, rincian kejadian bencana terdiri dari banjir sebanyak 14 kejadian, angin kencang 12, tanah longsor 50, kebakaran 69, gempa bumi 3, pohon tumbang 54 dan lain-lain 21.

Akibat bencana tersebut membuat rusaknya fasilitas umum yang ada di Kota Malang dan menyebabkan korban jiwa maupun korban luka. "Dari segi materi, kerugian yang diakibatkan bencana di sepanjang tahun 2018 mencapai Rp 6,6 Miliar," ujarnya.

Oky menyebut, selama Januari hingga Februari 2018 merupakan bulan-bulan yang dipenuhi kejadian bencana. Tercatat ada 35 kejadian selama Januari dan 25 kejadian pada Februari. Kerugian akibat bencana pun tak sedikit yakni 2,5 miliar dan 1,5 miliar untuk Januari dan Februari.

“Awal tahun biasanya puncak musim hujan, sehingga banyak sekali kasus kejadian bencana. Yang paling banyak ialah tanah longsor, pohon tumbang dan kebakaran,“ ujarnya.

Oky mengatakan, kasus kebakaran, pohon tumbang dan tanah longsor merupakan bencana yang paling mendominasi di tahun 2018. Pohon tumbang mengalami kenaikan 28 persen sementara itu tanah longsor mengalami penurunan sebanyak 32 persen dibanding tahun 2017 lalu.

“Hampir sebagian besar kejadian merupakan bencana yang dipengaruhi oleh cuaca atau yang biasa disebut hidrometereologi,“ jelas Oky.

Longsor di Kota Malang umumnya terjadi akibat faktor curah hujan yang tinggi. Umumnya warga yang tinggal di sekitar lokasi rawan longsor belum mempunyai mitigasi yang memadai. Oky menghimbau kepada warga yang mendiami bibir sungai atau daerah rawan longsor agar lebih berhati-hati.

"Untuk mencegah tanah longsor, didaerah permukiman yang rawan akan longsor harus membutuh perlakuan dan implementasi penataan ruang yang baik," ujarnya.

Lanjutnya, dari lima kecamatan yang ada di Kota Malang, Kecamatan Kedungkandang yang paling banyak terjadi bencana yakni 54 kejadian. Sedangkan Lowokwaru 50 Kejadian, Blimbing 47 kejadian, Sukun 36 kejadian dan Klojen 32 kejadian. Dari nilai kerugian sebanyak Rp 6,6 Miliar tersebut, Oky mengatakan, kerugian banyak diakibatkan oleh kasus tanah longsor dan kebakaran yang melanda Kota Malang.

Untuk itu ia mengupayakan upaya komprehensif dalam pencegahan kasus kebakaran dan tanah longsor agar mendapatkan perhatian serius.

“Untuk itulah, pengurangan risiko bencana harus menjadi mainstream dalam pembangunan di semua sektor. Kami berharap bencana di 2019 bisa ditekan dengan memberikan edukasi dan pemahaman kepada seluruh warga," tuturnya. 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved