Malang Raya
Burung Rangkong di Malang Selatan, Riwayatmu Kini
Survei Burung Rangkong di Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Bantur, Tirtoyudho dan Gedangan.
Penulis: Benni Indo | Editor: yuli
SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Jumlah perjumpaan Burung Rangkong di Malang bagian selatan mengalami penurunan drastis yakni hingga 60 persen. Data itu berdasarkan hasil survey terbaru PROFAUNA Indonesia di daerah Malang bagian selatan pada bulan Desember 2018.
Ketua PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid, dalam keterangan persnya menjelaskan penyebab turunnya perjumpaan burung rangkong hingga 60 persen itu disebabkan deforestasi dan degradasi hutan di Malang bagian selatan.
“Menurunnya jumlah perjumpaan itu sebagai indicator bahwa populasi mereka juga menurun, meskipun saat ini kami masih melakukan survey untuk mengetahui jumlah burung Rangkong,” ujar Rosek kepada Surya, Rabu (16/1/2019).
Dipaparkan Rosek, Tim PROFAUNA telah berkunjung ke sejumlah hutan di enam kecamatan di Kabupaten Malang. Hal itu dilakukan untuk mengumpulkan informasi keberadaan burung Rangkong yang sudah dilindungi itu.
Kecamatan yang dikunjungi itu antara lain Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Bantur, Tirtoyudho dan Gedangan. Survey juga dilakukan di daerah yang dulunya hutan, namun kini sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan atau ladang
Tim PROFAUNA fokus mendata keberadan tiga jenis burung Rangkong yaitu Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros Albirostris), Julang Emas (Aeros Undulatus) dan Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros).
“Hasilnya menunjukan adanya penurunan sampai 60 persen perjumapaan rangkong,” Rosek kembali menegaskan.
Diceritakan Rosek, pada tahun 1996-1997, dalam sebulan bisa menjumpai rata-rata 15 kali kelompok burung Rangkong di Malang bagian selatan. Namun kini tim Profauna hanya menjumpai enam kelompok.
“Itupun jumlah anggota kelompoknya menurun drastis,” paparnya.
Sebelum penebangan hutan besar-besaran pada tahun 1998 itu rata-rata jumlah individu dalam kelompok Rangkong yang dijumpai sebanyak 12 ekor. Namun dalam survey terbaru bulan Desember 2018, jumlah individu yang dijumpai dalam kelompok rangkong itu rata-rata hanya 4 ekor.
“Dulu bahkan di hutan yang ada di Lebakharjo, Kecamatan Ampeldaging itu kami bisa menjumpai sampai 30 ekor rangkong dalam satu kelompok, namun hal ini akan hanya jadi kenangan karena hutan alami di Lebakharjo sudah hancur,” keluh Rosek.
Saat ini burung Rangkong dalam jumlah kecil masih bisa dijumpai di beberapa wilayah antara lain Hutan Sumberagung, Teluk Apusan, Kondang Merak, Balaikambang, Kondang Iwak, Alas Kondang Rowo, dan Gunung Gajah Mungkur. Selain itu juga dijumpai di Cagar Alam Pulau Sempu yang menjadi salah satu habitat utama burung rangkong.
Saat ini, Tim PROFAUNA masih terus melakukan monitoring. Monitoring itu untuk mengetahui pergerakan Rangkong. Tim juga berharap bisa menjumpai spesies Julang Emang dan Rangkon Badak yang selama ini belum ditemui.
“Kami akan terus melanjutkan monitoring ini dan berharap akan menjumpai spesies Julang Emas dan Rangkong Badak,” kata Erik Yuniar, koordinator program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) PROFAUNA.
Sebelumnya hutan di wilayah Malang bagian selatan itu dikenal sebagai habitat berbagai jenis satwa liar seperti tiga jenis burung Rangkong, Banteng, Merak, Elang Jawa, Lutung Jawa dan Macan Tutul. Sayangnya pada 1998 mulai terjadi penebangan hutan ilegal secara besar-besaran di Malang Selatan.
Waktu itu diperkirakan sekitar 41.000 ha hutan menjadi gundul akibat penjarahan. Degradasi hutan itu membuat semakin membuat terancam punahnya berbagai jenis satwa langka di wilayah Malang bagian selatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/burung-rangkong-jenis-kangkareng-perut-putih.jpg)