Kabar Lamongan

Kasus Sapi Mati Mendadak, Disnakeswan Lamongan Tidak Mau Berspekulasi Penyebabnya

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan belum menemukan penyebab pasti sejumlah sapi yang mati mendadak di Lamongan.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Achmad Amru Muiz
suryamalang.com/Hanif Manshuri
Seekor sapi milik warga yang ditemukan mati mendadak di kandangnya tanpa diketahui penyebabnya di Lamongan. 

SURYAMALANG.COM, LAMONGAN - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan belum menemukan penyebab pasti sejumlah sapi yang mati mendadak di Lamongan.

"Pemeriksaan sudah dilakukan pada sapi yang mati mendadak, dan sejauh ini petugas tidak menemukan satupun ciri-ciri yang menjadi penyebab kematian," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Sukriyah kepada Suryamalang.com, Kamis (11/04/2019).

Menurut Sukriyah, pihaknya hari ini kembali menugaskan tim Disnakeswan untuk melakukan investigasi bersama Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Yogjakarta. "Ya, untuk penajaman penyebab sapi mati mendadak di Lamongan," katanya.

Upaya yang dilakukan diantaranya penambahan pengambilan sampel, daging, pakan, beberapa sampel yang akan diuji laboratorium.

Kalau hasil uji laboratorium kemungkinan baru diketahui hasilnya pada dua pekan kedepan. Sukriyah mengaku, pihaknya tidak mau berspekulasi tentang penyebab sapi - sapi mati mendadak.

Yang jelas, menurut Sukriyah, semua komponen akan menjadi bahan untuk mengetahui penyebab kematiannya.  Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan menyebutkan, mulai awal tahun 2019 hingga saat ini tercatat sebanyak 19 ekor sapi yang mati mendadak.

Yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Tikung, diantaranya, di Desa Soko, Desa Kelorarum dan Desa Wonokromo.

Bahkan, baru-baru ini, kasus serupa kembali menimpa sapi milik salah satu peternak asal Desa Soko, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Minggu (10/4/2019).

Menurut Sukriyah, dari pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap sapi yang mati mendadak, petugas tidak menemukan satupun ciri-ciri yang menjadi penyebab kematian.

Sukriyah hanya berharap para peternak berhati - hati saat mengambil rumput untuk pakan ternaknya. Jika perlu tanya pada masyarakat sekelilingnya apakah lokasi pengambilan rumput diinsektisida atau tidak. "Termasuk jerami yang ada di sawah," katanya.

Langkah itu harus dilakukan untuk mengantisipasi kejadian serupa, meski belum dipastikan rumput bekas diobati itu menjadi penyebabnya.

Apa kematiannya bukan karena penyakit antrak ? Sukriyah akan bisa memastikan setelah ada hasil laborat dan penelitian.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved