Kabar Madiun

Alvi Jadi Yatim Piatu dalam Usia 13 Tahun, Ibunya Wafat Usai Terlalu Lelah Jadi Anggota KPPS

Alvi Nurrahma menjadi yatim piatu dalam usia 13 tahun. Sekitar 40 hari lalu, ayah kandungnya meninggal dunia. Kini, ibunya bernama Supin Indarwati.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: yuli
rahadian bagus priambodo
Alvi Nurrahma menunjukkan foto mendiang ibunya. Ia menjadi yatim piatu dalam usia 13 tahun. Sekitar 40 hari lalu, ayah kandungnya meninggal dunia. Kini, ibunya bernama Supin Indarwati (37) juga meninggal dunia. Supin adalah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kabupaten Madiun yang meninggal dunia Rabu (24/4/2019) dini hari. 

SURYAMALANG.COM, MADIUN - Alvi Nurrahma menjadi yatim piatu dalam usia 13 tahun.  Sekitar 40 hari lalu, ayah kandungnya meninggal dunia. Kini, ibunya bernama Supin Indarwati (37) juga wafat. 

Supin adalah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kabupaten Madiun yang meninggal dunia Rabu (24/4/2019) dini hari.

Ia meninggal dunia akibat kelelahan bertugas di TPS 06, Desa Pilangrejo Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Pada Kamis pagi, bendera putih tampak terpasang di depan rumah Supin. Sejumlah ibu-ibu tampak memasak mie telor, di bawah tenda terpal berwarna oranye dan cokelat.

"Nanti malam acara tiga harinya almarhum. Nanti ada pengajian sampai tujuh harinya," kata Sirah (63), bibi almarhum Supin.

Duka Istri Tukang Sapu yang Meninggal Dunia saat Bertugas sebagai KPPS di Pasuruan

Pagi itu, tampak beberapa tamu yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Supin. Para tamu tersebut ditemui oleh Sirah.

Beberapa saat kemudian, Alvi Nurrahma (13) anak semata wayang Supin keluar dari kamar, dan duduk di tikar yang digelar di ruang tamu. Masih tampak kesedihan di wajah pelajar SMPN 7 Kota Madiun yang duduk di bangku kelas VII ini.

Ia tak menyangka, ibu kandungnya meninggal secepat itu. Apalagi, sekitar 40 hari yang lalu ayah kandungnya juga meninggal.

Tangis Aisyah Pecah Dapatkan Santunan Dari Gubernur Jatim, Suaminya Meninggal Saat Sebagai KPPS

"Ya kaget, tidak menyangka," kata gadis yang genap berusia 13 tahun pada 2 Maret 2019, kemarin.

Anak tunggal ini menuturkan, sehari-hari pasca ayah kandungnya meninggal, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Setiap hari, ia tidur seranjang dengan ibunya di rumahnya.

Kini, ia kehilangan dua sosok yang dicintainya. Setelah kedua orangtuanya tidak ada, ia mengatakan akan tinggal bersama neneknya.

"Nanti sama nenek, di (Kecamatan) Geger," katanya.

Ia menceritakan, mungkin ibunya sakit karena kelelahan saat bekerja menjadi anggota KPPS di TPS 06 Desa Pilangrejo. Namun, selain itu ibunya juga memiliki riwayat diabetes.

"Dulu juga pernah seminggu sakit perut, tetapi cuma dirawat di rumah," katanya.

Alvi menuturkan, pada saat pencoblosan Pemilu 2019, Rabu (17/4/2019), ibunya berangkat pukul 06.00 WIB, dan pulang Kamis (18/4/2019) pukul sekitar 02.30 dini hari.

Pagi, sehari setelah pencoblosan, ibunya sempat mengajaknya pergi mencari sarapan. "Pagi setelag pencoblosan itu masih sehat, ngaja makan di luar beli bakso," katanya.

Banyak Anggota KPPS Meninggal Dunia, Wali Kota Batu Usul Pelajar dan Mahasiswa jadi Anggota KPPS

Setelah sarapan, ibunya kemudian mengajaknya ke TPS. Di sana, ibunya bersih-bersih TPS hingga pukul 13.00 WIB, kemudian pulang ke rumah tidur.

Pada Jumat (19/4/2019) siang, ibunya mengeluh perut sakit, dan muntah-muntah. Begitu juga pada Sabtu (20/4/2019), inbunya masih muntah-muntah.

Setelah dua hari tak kunjung sembuh, pada Minggu (21/4/2019) ibunya dibawa ke Rumah Sakit, Griya Husada, dan diberi obat oleh dokter. Senin (22/5/2019) keesokan harinya ibunya dibawa ke rumah sakit Griya Husada, namun karena kamar rawat inap penuh, akhirnya ibunya dibawa ke RSUD dr.Soedono.

Sempat dirawat di RSUD dr.Soedono, kondisi ibunya tidak kunjung membaik. Rabu (24/4/2019) dini hari, ibunya dipanggil Sang Khalik.

"Pas ibu meninggal saya sedang tidur di luar ruangan, pakai tikar. Jadi nggak tahu," katanya.

Hingga 25 April 2019, Anggota KPPS Meninggal Dunia 225 Orang dan 1.470 Orang Sakit

Dia menceritakan, sebelum meninggal, ibunya bersikap tidak sewajarnya. Ibunya malah menjadi seorang pemarag. "Kalau saya ajak ngobrol malah marah," katanya.

Yang membuatnya, semakin sedih adalah, ruang dan kasur pasien yang digunakan ibunya di RSUD dr.Soedono, adalah ruang dan kasur yang sama digunakan oleh almarhum ayahnya.

"Ruang High Care Unit, Irna Wijaya Kusuma tempat tidur nomor empat. Itu tempat ayah saya dirawat. Jadi masuk ruangan itu, saya langsung nangis langsung kaget," kata gadis yang bercita-cita ingin menjadi dokter.

Satu Anggota KPPS Di Tulungagung Meninggal Dunia, KPU Memberikan Santunan

Istri Kades Pilangrejo, Purwati (45) mengatakan, Supin adalah sosok perempuan yang aktif di berbagai kegiatan di desa.

"Rajin orangnya, di aktif ikut kegiatan PKK, organisasi muslimat, yasinan sore. Pokoknya, dia memilik jiwa sosial tinggi, jadi kader Posyandu juga. Orangnya baik, smeua kegiatan di desa diikuti, organisasi keagaaman juga. Kalau orang Jawa bilang, grapyak," katanya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved