Kabar Tulungagung

Petani Jagung Tulungagung Keluhkan Serangan Babi Hutan, Semalam Jagung Siap Panen Bisa Habis

Petani tua itu mengeluh, karena hasil panen jagung kali ini menurun drastis setelah tanaman jagung selain diserang hama tikus juga diserang babi hutan

Petani Jagung Tulungagung Keluhkan Serangan Babi Hutan, Semalam Jagung Siap Panen Bisa Habis
suryamalang.com/David Yohanes
Petani mengupas kulit jagung sisa hasil panen dari sawah yang selamat dari serangan Babi Hutan. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Katijan (70) warga Dusun Sumberjabon, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung tengah mengupas kulit jagung di beranda rumahnya. Petani tua itu mengeluh, karena hasil panen jagung kali ini menurun drastis.

Ini setelah tanaman jagung selain diserang hama tikus, ternyata juga diserang babi hutan. “Biasanya satu hektar lahan tanaman jagung bisa dapat 4 ton. Ini dapat setengah ton saja sudah bagus,” kata Katijan.

Ia mengatakan, hama tikus mengganggu tanaman saat masih muda. Selain itu, juga pada saat jagung mulai berbuah. Namun, serangan babi hutan merusak tanaman jagung lebih parah. Babi Hutan tersebut datang secara berkelompok dan mengakibatkan kerusakan yang sangat luas.

“Serangannya waktu malam hari. Kalau datang bergelombang dalam jumlah cukup banyak,” ucap Kartijan.

Selama ini tidak ada cara efektif untuk mengendalikan hama babi hutan. Petani sepenuhnya mengandalkan para pemburu untuk membunuh hewan ini. “Biasanya ada yang gladhak (berburu). Ini sudah lama tidak kelihatan,” ucap Kartijan.

Kondisi itu semakin tidak menguntungkan, karena harga jagung tengah turun. Dimana harga jagung di petani turun hanya mencapai Rp 3.500 per kilogram. Padahal sebelumnya harga jagung mencapai lebih dari Rp 4.000 per kilogram.

Sedangkan petani lain di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggung, Sutrisno justru mengeluh karena minimnya curah hujan. Petani jagung di Tanggunggunung menggunakan lahan milik Perhutani di area pegunungan.

Mereka sepenuhnya mengandalkan air hujan, untuk menyirami tanaman mereka. “Setelah dipupuk, terus tidak ada hujan. Hasilnya jadi menyusut banyak,” ungkap Sutrisno.

Kondisi kurang air membuat hasil panen kali ini menyusut hingga 75 persen dibanding musim penghujan. “Kalau musim penghujan, panen kami bisa empat kali lipat. Sekarang memang menyusut drastis,” ujar Sutrisno. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved