Malang Raya
Omzet Batik Sengguruh Capai Belasan Juta Rupiah/Bulan
Saat ini Griya Batik Seng memiliki omzet sampai belasan juta rupiah per bulan.
Penulis: Mohammad Erwin | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Griya Batik Seng memiliki omzet sampai belasan juta rupiah per bulan.
UMKM yang berlokasi di Jalan Gondomono, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang ini akan berinovasi dalam produksi batik dengan pewarna alam berbahan dasar limbah kopi.
Pengelola Griya Batik Seng, Evi Wahyu Astutik mengaku sudah punya relasi dengan berbagai warung kopi di Kepanjen untuk pemasokan bahan baku usaha batik.
Cara mengolah menjadi tinta sama dengan bahan pewarna alam lainya.
Yakni, dengan cars ekstraksi selama beberapa hari. Hingga akhirnya warna alami dari bahan baku tersebut tercipta.
:Selain limbah kopi letek, limbah kulit kopi yang biasa dibuat makanan ternak juga bisa dibuat warna mas.”
“Sekarang kami menunggu musim panen untuk bisa experimen kulit kopi sebagai warna alam,” kata Evi kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (23/7/2019).
Evi mengaku eksistensi usaha batik pewarna alam yang dikelolanya punya prospek yang bagus.
Menurutnya, batik yang diproduksi dengan menggunakan pewarna punya estetika seni tersendiri daripada batik yang menggunakan pewarna sintetis.
Selain itu, limbah dari produksi batik pewarna alam ramah lingkungan.
Batik Seng Sengguruh memang beda daripada batik pada umumnya.
Di tengah pesatnya modernisasi, Batik Seng masih mempertahankan cara produksi dengan menggunakan pewarna alami.
Sebelum bereksperimen dengan sumber pewarna alami baru.
Pewarna Batik Seng sebelumnya hanya berasal dari tanaman seperti daun mangga, daun rambutan, sabut kelapa, kulit kayu mahoni, biji-bijian, dan tanaman lain.
“Kopi sedang populer. Kami berpikir limbah kopi itu bisa ciptakan warna khas.”
“Ketimbang dibuang lebih baik limbah kopi kami manfaatkan,” ujar owner Batik Seng itu.
Evi menceritakan nama Batik Seng diambil dari nama desanya, yakni Sengguruh.
Batik Seng lahir dari inisiatif dari guru-guru di Yayasan MI Al Ikhlas, Sengguruh yang mencoba memberi kesibukan pada para orangtua siswa.
Dengan modal mandiri secara swadaya sebesar Rp 1 juta.
“Awalnya saya adalah kepala sekolah. Sama yayasan bikin unit usaha Batik Sengguruh sejak 2014.”
“Sempat stagnan sampai tahun 2016. Akhirnya saya fokus ke batik aja alhamdulillah eksis sampai sekarang,” beber perempuan kelahiran Jombang 34 tahun silam ini.
Kini, Batik Seng menjadi jujukan para warga dari berbagai daerah untuk lebih mengenal batik dengan pewarna alam.
Berbagai macam pameran bergengsi sudah pernah diikuti Evi bersama Batik Seng yang ia kelola.
“Saya pernah ikut pameran di Jakarta. Kami pernah diundang menemui Menteri Lingkungan Hidup RI beberapa waktu lalu.”
“Pemkab Malang juga sekarang rutin pesan souvenir batik ke kami,” beber Evi.
Evi masih ingat memulai usaha batik pewarna alami ini hanya dengan modal nekat.
Dengan modal Rp 1 juta, kini Batik Seng punya omzet 10-15 juta perbulan.
Dengan memberdayakan 15 orang pemuda setempat. 4 diantaranya adalah difabel.
“Untuk harga, Batik Seng pun cukup bersaing dengan batik pada umumnya yakni mulai dengan Rp 150.000 hingga Rp 600.000 perlembarnya.”
“Sebulan bisa laku 50 sampai 150 lembar perbulannya,” jelas Evi.
Evi juga mempromosikan batiknya lewat website www.batik-seng.com
Hingga kini pemesan yang rutin membeli produk batik pewarna alam ini adalah berbagai instansi di lingkungan Pemkab Malang. Lingkup penjualan masih pada lingkup nasional.
“Di media sosial juga kami berjualan yakni di instagram. Kami menyerukan Ecoprint alias pewarnaan alam.”
“Batik kami dikenal dengan branding atau merk Batik Sengguruh. Pesananan dari seluruh Indonesia pernah kami layani,” jelas Evi.
Dalam waktu dekat Batik Seng akan berubah menjadi kampung budaya.
Pembina Batik Seng, Prof Wahyudi Siswanto menerangkan, kini pihaknya sedang menyiapkan masyarakat setempat guna mengangkat konsep kampung budaya.
Wahyudi dalam UKM Batik Sengguruh ini juga berperan dalam menciptakan motif batik.
“Di kampung budaya ini nanti keinginan kami akan menjadi pusat konservasi batik, didalamnya ada edukasi mulai dari proses, museum, hingga pusat oleh-oleh dan cinderamata khas dari Sengguruh,” tutur Wahyudi.
Guru Besar Universitas Negeri Malang itu menuturkan, ide melahirkan kampung budaya tersebut sudah direncanakannya sejak lima tahun yang lalu.
Dia berharap batik pewarna alam bisa terus eksis untuk genarasi mendatang.
“Perlu diketahui, Batik Indonesia itu punya ciri dan cara yang khas dalam proses pembuatannya.”
“Kami ingin melestarikan dan berinovasi baik dari segi motif maupun bahannya,” ujar pembina MI Al Ikhlas Sengguruh ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/proses-produksi-batik-alam-di-griya-batik-seng-di-jalan-gondomono-kepanjen-kabupaten-malang.jpg)