Kota Batu
Perhutani Tak Bisa Cegah Budaya Masyarakat Gemar Bakar Hutan, Berkaca Terbakarnya Gunung Panderman
Budaya pembakaran hutan itu merupakan budaya masyarakat yang tidak dapat dihentikan. Tetapi masih ada kemungkinan untuk dicegah.
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Achmad Amru Muiz
SURYAMALANG.COM, BATU - Perhutani akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pembakaran hutan. Ini dikarenakan Budaya pembakaran hutan itu merupakan budaya masyarakat yang tidak dapat dihentikan. Tetapi masih ada kemungkinan untuk dicegah agar tidak terus menerus terjadi.
Administrator KPH Malang, Hengki Herwanto mengatakan, ada banyak evaluasi setelah kejadian terbakarnya hutan Gunung Panderman dan juga kebakaran hutan di Selatan Coban Putri di petak 219.
"Budaya seperti itu yang seharusnya bisa dicegah. Bahkan harus diubah kebiasaan buruk itu. Terus kami lakukan sosialisasi, agar meninggalkan hal buruk itu," kata Hengki saat ditemui dalam Apel Siaga Kebencanaan, bersama beberapa elemen lainnya di Coban Talun, Kamis (25/7).
Selain itu, adanya pos pantau juga sebagai fungsi pencegahan terjadinya pembakaran hutan secara sengaja. Apalagi hutan yang dibakar adalah hutan lindung, pihak Perhutani melarang pembakaran secara sengaja.
Ia menyebutkan, pos pantau itu ada di Pos Pendakian Gunung Panderman dan Gunung Buthak. Lalu ada di Jalibar sebagai posko darurat, di Buduk Asu yang memantau Gunung Arjuna dan di Gunung Banyak.
"Fungsinya pos pantau juga demikian, jika ada lahan hutan yang terbakar langusng bertindak dengan tim gabungan," imbuhnya.
Untuk luas total lahan yang terbakar di hutan Gunung Panderman sekitar 70 hektare. Sedangkan luas lahan yang dibakar secara sengaja di Selatan Coban Putri di petak 219 ada sekitar setengah hektare.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/tim-perhutani-dan-gabungan-saat-apel-siaga-kebakaran-hutan-di-coban-talun-kota-batu.jpg)