Citizen Reporter

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Khalifah Kordoba Abdurrahman III pada abad kesepuluh emutuskan untuk menghitung jumlah hari ia merasa bahagia. Ia menghitung hanya ada 14 hari.

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?
flickr/repolco
ILUSTRASI HAREM 

Kebahagiaan, menurut penyair Brasil, Vinicius de Moraes, adalah “bulu yang melayang di udara. Ia terbang cepat, tapi tidak lama.”

Kebahagiaan adalah rekaan manusia, gagasan abstrak yang tidak nyata ada dalam pengalaman hidup manusia yang sebenarnya.

Perasaan positif dan negatif memang ada di otak, tetapi kebahagiaan yang berkelanjutan itu tidak ada dasarnya dalam biologi. Menurut saya, ironisnya, fakta ini justru sesuatu yang membahagiakan.

Alam dan evolusi

Manusia tidak dirancang untuk bahagia, atau bahkan merasa puas. Sebaliknya, kita dirancang terutama untuk bertahan hidup dan berkembang biak, seperti setiap makhluk lainnya di dunia.

Alam menghalangi munculnya rasa puas sebab rasa puas akan menurunkan kewaspadaan kita akan ancaman keberlangsungan hidup.

Faktanya, evolusi telah mengutamakan perkembangan lobus frontal di otak kita (yang memberi kita kemampuan memutuskan dan menganalisis yang sangat baik) dibanding mengembangkan kemampuan alami untuk merasa bahagia.

Alam punya prioritas

Area dan sirkuit otak tertentu memiliki fungsi neurologis dan intelektual. Tapi, kebahagiaan tidak bisa ditemukan di jaringan otak; kebahagiaan hanyalah rekaan tanpa dasar neurologis.

Bahkan para ahli dalam bidang ini berpendapat, ketidakmampuan alam menghilangkan depresi dalam proses evolusi adalah karena depresi memainkan peran penting pada saat-saat sulit.

Halaman
1234
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved