Citizen Reporter

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Khalifah Kordoba Abdurrahman III pada abad kesepuluh emutuskan untuk menghitung jumlah hari ia merasa bahagia. Ia menghitung hanya ada 14 hari.

Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?
flickr/repolco
ILUSTRASI HAREM 

(Padahal depresi merugikan dalam hal kelangsungan hidup dan reproduksi.)

Individu yang depresi akan terbantu melepaskan diri dari situasi berisiko dan situasi yang jelas tidak menguntungkan. Pemikiran mendalam yang terjadi saat depresi juga membantu memecahkan masalah selama masa-masa sulit.

Di mana letak kebahagiaan? Gutenberg Encyclopedia, CC BY-SA


Moralitas

Industri global terkait kebahagiaan yang ada saat ini berakar dari hukum moralitas Kristen. Kita diberitahu bahwa ketidakbahagiaan yang kita alami disebabkan oleh kekurangan moral kita, misalnya, karena kita egois dan materialis.

Kita diminta meraih keseimbangan psikologis yang baik dengan cara menolak, melepas, dan menahan hasrat.

Padahal, cara-cara ini hanyalah mencari penawar; kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk menikmati hidup terus-menerus.

Melalui cara-cara ini, kita menghibur diri dengan mengatakan bahwa ketidakbahagiaan bukanlah kesalahan kita. Padahal ketidakbahagian bersumber dari rancangan biologis alami kita; ketidakbahagian ada dalam blueprint kita.

Mereka yang setuju bahwa jalan moral adalah jalan yang benar menuju kebahagiaan menolak jalan pintas meraih kebahagiaan lewat bantuan obat-obatan psikotropika.

George Bernard Shaw berkata: “Kita tidak memiliki hak untuk menikmati kebahagiaan bila kita tidak mampu menciptakan kebahagiaan; sama seperti kita tidak berhak menikmati kekayaan, kalau kita tidak mampu menghasilkan kekayaan”.

Kesejahteraan tampaknya perlu diupayakan; ini untuk membuktikan bahwa kesejahteraan bukanlah sesuatu yang alami.

Halaman
1234
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved