Breaking News:

Citizen Reporter

Perihal Frekuensi dan Durasi Hubungan Badan, Satu Tinjauan Psikologis

Seberapa sering kita berhubungan seksual tergantung pada faktor genetik, biologis, dan kondisi kehidupan kita.

Editor: yuli
Kompas.com
Ilustrasi 

Secara biologis, bila pasangan bersetubuh paling tidak dua kali dalam seminggu, pembuahan bisa terjadi paling tidak sekali selama periode subur perempuan yang terjadi enam hari dalam sebulan. Oleh karena itu, pasangan seperti ini lebih besar kemungkinannya untuk bereproduksi dibandingkan dengan pasangan yang jarang berhubungan seks.

Keberhasilan reproduksi dapat mengarah pada penyaringan perilaku genetik. Dengan kata lain, orang-orang yang sering berhubungan seks lebih besar kemungkinannya mendapatkan anak, sehingga gen mereka akan tersimpan dalam lungkang gen (gene pool).

Namun, tingkat dorongan genetik untuk berhubungan seksual bisa bervariasi pada setiap orang.

Kondisi hidup kita bisa berperan dalam frekuensi hubungan seksual, terutama karena ada hal lain yang perlu kita perhatikan: pekerjaan kantor, mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan juga ponsel pintar and ragam pilihan hiburan lainnya.

Teknologi kadang menghalangi. Annie Spratt

Nyatanya, dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi hubungan seksual orang Australia dan AS berkurang.

Pada tahun 2013, orang Australia berhubungan seks 20 kali lebih sedikit dibandingkan satu dekade sebelumnya. Sementara pada tahun 2014, orang AS berhubungan seks sembilan kali lebih sedikit dibandingkan dekade sebelumnya.

https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom
https://facebook.com/suryamalang.tribun | SURYAMALANG.COM | IG: @suryamalangcom (.)

Siapa yang paling sering dan jarang berhubungan seks?

Tidak mengejutkan, orang yang sudah memiliki pasangan tetap lebih sering berhubungan seks daripada mereka yang tidak. Dan orang yang baru memulai hubungan seksual cenderung melakukannya lebih sering ketimbang yang lain.

Orang cenderung mengurangi aktivitas seksual saat pasangannya hamil tua dan beberapa tahun setelah melahirkan. Kurangnya kesempatan dan kesehatan yang buruk juga berhubungan dengan rendahnya jumlah hubungan seksual.

Salah satu hal yang paling mempengaruhi rendahnya frekuensi aktivitas seks seseorang adalah penuaan. Frekuensi melakukan hubungan seks menurun seiring dengan bertambahnya umur.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved