Minggu, 14 Juni 2026

Malang Raya

Mengabdi untuk Mereka yang Tuli, Ghani hingga Harus Belajar Koding

Pada 23 September, diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII). Para ‘Teman Tuli’ harusnya bisa beraktivitas seperti ‘Teman Dengar’.

Tayang:
Penulis: Aminatus Sofya | Editor: yuli
PSLD UB
Mahasiswa yang menjadi volunteer di PSLD Universitas Brawijaya saat berkomunikasi dengan mahasiswa tuli. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Ghani Ilham berkenalan dengan bahasa isyarat sejak 2016 ketika ia ditunjuk menjadi asisten praktikum di Fakultas Teknologi Pertanian.

Salah satu mahasiswa yang Ghani dampingi, adalah seorang tuli.  Sebagai orang awam, Ghani sama sekali tak bisa bahasa isyarat kala itu. Satu huruf pun, belum pernah dia tahu bagaimana isyaratnya.   

"Saya bingung banget, saya nggak bisa kan bahasa isyarat. Dari itu, saya tertarik belajar bahasa isyarat,  supaya bisa membantu temen-temen disabilitas rungu," kata Ghani, Minggu (22/9/2019).

Dari situ, Ghani bergabung dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB). Sebelum menjadi relawan, Ghani diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa isyarat dasar. 

"Isyarat dasar itu seperti bagimana mengisyaratkan huruf. Dari situ, mulai bisa kalau diminta komunikasi, meskipun sangat terbatas," ucap pemuda 24 tahun ini. 

Prof Dr Efendi: Penyandang Tunarungu Kelak Harus Paham Teknologi

Setelah belajar bahasa isyarat dasar, Ghani belajar sendiri dengan berinteraksi bersama teman-teman tuli. Isyarat demi isyarat mulai dia kuasai. Terkadang pula, video di youtube menjadi alatnya untuk belajar bahasa isyarat. 

Pria asal Surabaya itu menceritakan pernah mendampingi mahasiswa Ilmu Komputer. Padahal, ia sama sekali tidak paham istilah koding dan teknologi informasi yang lain. 

"Mau nggak mau ya ikutan belajar. Kalau mahasiswa di fakultas sosial masih bisa, istilahnya kan saya ngerti. Kalau sains itu yang susah," katanya.  Relawan lain, Asfarina Fitriattaris mengungkapkan hal sama. Dia sempat kebingungan menjelaskan mata kuliah di Fakultas Teknik. 

"Bingung banget. Nggak pernah dengar istilahnya kan," tutur perempuan yang akrab disapa Taris ini. Sebetulnya kata Taris, PSLD telah membuat sebuah aplikasi yang memuat isyarat akademis. Namun, kata-kata yang ada di dalam aplikasi itu sangat terbatas dan perlu pembaruan. 

"Menurut saya juga lebih enak belajar ke temen-temen tuli sendiri. Lebih banyak kata-kata yang bisa dieksplore," katanya.   

Mahasiswa yang menjadi volunteer di PSLD Universitas Brawijaya saat berkomunikasi dengan mahasiswa tuli.
Mahasiswa yang menjadi volunteer di PSLD Universitas Brawijaya saat berkomunikasi dengan mahasiswa tuli. (PSLD UB)

Ingin yang lain peduli

Bagi Taris, penyandang tuli mempunyai hak yang sama dalam semua hal. Karenanya, ia gencar mengampanyekan bahasa isyarat bersama relawan di PSLD UB. 

"Saya ingin semua orang itu ada keinginan belajar bahasa isyarat. Itu penting supaya temen-temen kita yang tuli bisa mendapatkan hak yang sama," ucap Taris.  Menurut Taris, tidak lah susah belajar bahasa isyarat. Kata dia, bahasa isyarat layaknya bahasa asing yang butuh pendalaman karena terdapat sejuta kata di dalamnya. 

"Sama kayak bahasa asing itu, ada banyak kata dan kita mesti hafal satu-satu. Memang butuh pendalaman," ucap mahasiswa Sastra Jepang ini.  Taris mengatakan dia masih terus belajar bahasa isyarat.

Menurutnya, kesetaraan terhadap mahasiswa tuli bisa terwujud apabila ada kepedulian dari orang-orang yang lahir secara normal. 

"Ada perbedaan antara bahasa orang-orang yang bisa bicara dengan orang tuli. Karena itu, saya kira orang-orang normal harus mulai punya kepedulian supaya bisa membantu teman-teman tuli," pungkasnya. 

Perbedaan Melebur Jika Setiap Orang Peduli Mewujudkan Kesetaraan Lewat Riset  

Pada 23 September, diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII). Para ‘Teman Tuli’ harusnya bisa beraktivitas seperti ‘Teman Dengar’.

Mereka juga harusnya memiliki kesetaraan seperti ‘Teman Dengar’. Inilah yang terus diperjuangkan ‘Teman Dengar’ di lingkungan kampus Universitas Brawijaya. Mengajak setiap orang peduli dan memahami bahasa isyarat. Karena berbicara bukan soal cuma soal suara.  

Alies Poetri Lintangsari terketuk hatinya untuk mendalami bahasa isyarat kala dia ditunjuk menjadi Kepala Pendampingan di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya. Perempuan yang karib disapa Lintang ini, lantas belajar dan mulai mendalami bahasa isyarat. 

Pertama, Lintang mendapat keluhan dari dosen di UB terkait mahasiswa disabilitas rungu yang tidak mampu mengikuti mata kuliah dengan lancar. Setelah ditelusuri, kosa kata yang dimiliki mahasiswa disabilitas rungu sangat minim, padahal di kampus, mereka setiap hari harus belajar teori.

"Jadi kata-kata misalkan humanisme, nasionalisme dan kata-kata akademis lain, mereka itu belum tahu.  Itu sebabnya saat mengikuti perkuliahan, banyak dosen mengeluhkan kok mahasiswa tuna rungu gini ya. Gitu," tutur Lintang, Minggu (22/9/2019).

Menurut Lintang,  perbedaan persepsi tersebut bisa melebur jika setiap orang mulai peduli pada bahasa isyarat. Sebab, pola komunikasi orang dengan disabilitas rungu berbeda dengan kalangan normal. 

"Kita ngerti imbuhan me, di, kan dan yang lain. Sementara temen-temen disabilitas ini nggak ngerti. Mereka lebih banyak menggunakan kata-kata dasar," ucapnya.   Tertinggal Jauh Lintang mengatakan Indonesia tertinggal cukup jauh jika dibandingkan dengan Amerika dan Inggris perihal riset bahasa isyarat. Ia bahkan menyebut kondisi bahasa isyarat Indonesia saat ini mirip Inggris di tahun 80-an silam. 

"Jadi tertinggalnya cukup jauh. Masih belum banyak orang tertarik melakukan riset tentang bahasa isyarat, padahal potensinya ada," katanya. 

Setidaknya, dua riset telah ditulis oleh Lintang agar kesetaraan terhadap penyandang disabilitas rungu dapat diwujudkan. Riset pertama adalah Identifikasi Kebutuhan Mahasiswa Tuli dalam Pembelajaran Bahasa Tulis pada tahun 2014. Dan,  Disabilitas dan Pendidikan Inklusif di Perrguruan Tinggi di tahun 2018.

Lintang mengatakan perjalanan Indonesia masih cukup jauh agar bahasa isyarat mulai diperhitungkan. Sebagai awalan,  dosen bahasa inggis ini menilai pemerintah perlu mengkaji ulang penggunaan bahasa isyarat di sekolah apalagi bahasa isyarat yang diterbitkan pemerintah atau dikenal dengan sebutan SIBI (sistem isyarat bahasa indonesia).

"Baiknya pemerintah mulai mengganti SIBI dengan Bisindo. Bisindo ini lahir dari temen-temen tuli sendiri, beda sama SIBI yang dibikin pemerintah," ucap perempuan 32 tahun ini.  Selain itu, pemerintah juga perlu mendokumentasi bahasa isyarat yang dipakai di seluruh Indonesia.

"Setelah terdokumentasi, nanti bisa dibikin bahasa universalnya. Karena bahas isyarat di masing-masing daerah itu berbeda-beda," ujarnya. Selain sibuk mengajar, Lintang juga masih aktif di PSLD.

Sehari-harinya, ia memantau apakah mahasiswa berkebutuhan khusus di UB sudah mendapat perlakuan yang layak atau tidak.  Bahkan karena ide Lintang, digagaslah relawan yang mendampingi mahasiswa disabilitas rungu agar mendapat ilmu yang sama saat di kelas. 

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
Live
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
VS
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved