Citizen Reporter

Komitmen Lestarikan Budaya, 4000 Warga Polowijen Gelar Karnaval dan Kirab Budaya

Gelaran Karnaval dan Kirab Budaya dalam rangka Bersih Desa Polowijen 2019 yang ke-7 ini diselenggarakan oleh Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing.

Komitmen Lestarikan Budaya, 4000 Warga Polowijen Gelar Karnaval dan Kirab Budaya
adi h
Gelaran Karnaval dan Kirab Budaya dalam rangka Bersih Desa Polowijen 2019 yang ke-7 ini diselenggarakan oleh Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing, Kota Malang, akhir pekan lalu. 

SURYAMALANG.COM - Lebih dari 4.000 warga Polowijen dengan berbagai kostum memadati sepanjang jalan Polowijen, Kota Malang.

Tampak juga pelbagai atraksi seni budaya disuguhkan sebagai wujud ekspresi warga Polowijen. Mulai dari mobil hias, ogoh-ogoh, barong, naga, replika patung Dwarapala, candi Singasari, kapal penisi, kereta kencana, watu kenong, sumur windu, dan banyak lagi.

Gelaran Karnaval dan Kirab Budaya dalam rangka Bersih Desa Polowijen 2019 yang ke-7 ini diselenggarakan oleh Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing, Kota Malang, akhir pekan lalu.

Ketua panitia, Rudy Karunianto mengatakan, karnaval dan kirab budaya ini adalah rangkaian kegiatan penutup ‘Besih Desa Polowijen’.

Lebih dari 4.000 warga Polowijen dengan berbagai kostum memadati sepanjang jalan Polowijen, Kota Malang.
Lebih dari 4.000 warga Polowijen dengan berbagai kostum memadati sepanjang jalan Polowijen, Kota Malang. (adi h)

Kegiatan diawali dengan gelar doa bersama di petren Polowijen, di tiga titik situs budaya Polowijen, yaitu situs Sumur Windu Ken Dedes, situs Joko Lolo, dan makam Mbah Reni Empu Topeng Malang.

Rudy yang juga ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) menambahkan, event lain yang sudah digelar adalah pentas seni dan campursari, penampilan sendratari topeng Polowijen. Dilanjutkan dengan pengajian akbar yang di hadiri Walikota Malang Sutiaji.

“Nah, karnaval dan kirab budaya Polowijen kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mengingat diikuti oleh 80 kontingen perwakilan dari 6 RW dan 38 RW se kelurahan Polowijen. Mari bersama-sama kita istiqomah menguri-uri budoyo kita,” ajak Rudy di hadapan ribuan warga Polowijen.

Lurah Polowijen, Suseno mengapresiasi komitmen warga Polowijen merawat tradisi dan melestarikan budaya. Menurutnya event tahunan itu merupakan sajian wisata budaya di Kota Malang.

"Ke depan kegiatan Bersih Desa akan diajukan ke Musrenbang untuk mendapatkan anggaran yang cukup dan mampu menarik wisatawan,” ujarnya.

Sementara, anggota DPRD kota Malang, Eddy Widjanarko dalam sambutannya menyatakan, event tersebut sebagai Hari Raya Kebudayaan Polowijen. Eddy juga mengajak warga Polowijen untuk terus melestarikan tradisi budaya di Polowijen.

“Ini harus dilestarikan. Pasalnya, event ini sebagai momentum bertemunya warga Polowijen," kata Eddy.

Arok Dedes “hadir” di Polowijen

Salah satu kontingen karnaval dan kirab budaya dari RT 05 RW 01 pimpinan Markaban menyuguhkan fragmen Ken Dedes. Jamak diketahui, menurut sejarah Ken Dedes dulu tinggal di Panawidyan (kini Polowijen). Dyah Ayu Pratyaparamita yang tidak lain adalah anak Empu Purwa sang resi Budha Mahayana itu yang melahirkan keturunan raja-raja besar di Jawa hingga Mataram. Sekalipun gagal dipersunting Joko Lolo pemuda dari Dinoyo, rupanya Ken Dedes dipersunting Akuwu Tumapel yang akhirnya direbut oleh Ken Arok.

“Tampak pula kontingen yang yang membawa dua patung Dwarapala dan Candi Singosari. Ini makin menambah fragmen terkesan lebih hidup,” kata Markaban.

Wayang Orang Ruwatan Sukerto

Kontingen dari RT 02 RW 01 juga menjadi perhatian warga Polowijen. Bayangkan, mereka menampilkan wayang orang lengkap dengan dalang, wiyogo, wranggono serta gamelan dan geber warang kulit. Hanya saja perannya dimainkan oleh wayang orang dengan tema Ruwatan Sukerto.

Dalam sejarahnya, Polowijen yang berlokasi di pojok utara Kota Malang terkenal dengan basis atau kantong kesenian. Banyak seniman yang lahir di Polowijen. Beberapa kesenian lainnya selain wayang topeng seperti, wayang wong, wayang jedong, wayang kulit, wayang ope, ludruk, pencak silat, bantengan dan terbangan jidor juga pernah berkembang dan lestari di Polowijen.

Polowijen juga pernah menjadi sentra mebel serta dan kerajinan kayu lain. Melalui sejarah itu, makin menegaskan bahwa Polowijen adalah daerah para pengrajin seni pahat dan topeng.

Menurut penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, bisa dikatakan Polowijen merupakan daerah yang menginspirasi bagi daerah lain sehingga muncul berbagai ragam seni tradisi kebudayaan serta kerajinan yang membuat daerah-daerah lain bisa ikut berjaya pada masanya.

Tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya, lurah, Danramil, Kapolsek Blimbing, Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar), serta anggota DPRD Kota Malang, serta tamu undangan lainnya. ADI H

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved