Malang Raya

Api Masih Berkobar di Gunung Semeru, BPBD Jatim Sebut TNBTS Merasa Bisa Padamkan Tanpa Bantuan Udara

Mengapa Api Masih Berkobar di Gunung Semeru? Tidak ada Upaya Pemadaman Pakai Bom Air. BPBD Jatim Sebut TNBTS Merasa Bisa Padamkan Tanpa Bantuan Udara

Api Masih Berkobar di Gunung Semeru, BPBD Jatim Sebut TNBTS Merasa Bisa Padamkan Tanpa Bantuan Udara
GIMBAL ALAS untuk SURYAMALANG.COM
Relawan dari Komunitas Gimbal Alas Indonesia saat melakukan pemadaman api di kawasan Ayek-Ayek Gunung Semeru pada 25 September 2019 

Mengapa Api Masih Berkobar di Gunung Semeru? Tidak ada Upaya Pemadaman Pakai Bom Air. BPBD Jatim Sebut TNBTS Merasa Bisa Padamkan Tanpa Bantuan Udara

SURYAMALANG.COM - Kebakaran hutan di Gunung Semeru masih belum bisa dipadamkan. Hingga Sabtu (5/10/2019), terdapat kepulan asap di Blok Bantengan dan Amprong.

“Lokasi ini sempat dipadamkan namun karena faktor angin yang sangat kencang ditambah cuaca panas, tonggak kayu dan seresah yang sudah mati membuat kepulan asap muncul kembali,” jelas Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Syarif Hidayat, Minggu (6/10/2019).

Ia menambahkan luas terdampak kebarakan hutan Semeru telah lebih dari 102 hektar. Sementara daerah yang berhasil dipadamkan di antaranya Gunung Kepolo, Arcopodo, Kelik, Watupecah, Waturejeng, Ayek-ayek Pusung Gendero, Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Watu Tulis, Po’o Senthong dan Gunung Lanang.

“Kurang lebih daerah terdampaknya 102 hektare,” katanya.

Beda Data Luas Hutan Terdampak versi BPBD Jatim dengan Balai Besar TNBTS

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Yanuar Rachmadi, mengatakan luas hutan terdampak kebakaran Semeru mencapai 130 hektare per 27 September. Data tersebut berbeda dari yang dirilis BB TNBTS yang hanya 102 hektar.

“Data sekarang belum kami rangkum. Tapi per 27 September itu 130 hektar,” ungkap Yanuar.

Menurut dia, perbedaan tersebut wajar sebab tidak ada alat untuk mengukur luas hutan secara pasti. Dalam menentukan luasan kebakaran, BPBD menggunakan aplikasi digital maps yang diolah sedemikian rupa.

“Kita kan nggak mungkin tuh hitung kebakarannya manual, jadi pake maps, kan. Mana yang kebakar kemudian diitung luasannya,” imbuhnya.

Ketika ditanya mengapa tidak menggunakan pemadaman via udara, Yanuar beralasan BB TNBTS tidak pernah memintanya. Kata dia, BB TNBTS menyatakan bisa mengendalikan kebakaran hutan tanpa bantuan pemadaman via udara.

“Kalau waktu Arjuno itu Tahura Raden Soerjo menyurati kami. Minta bantuan pemadamaman via udara, kami tindaklanjuti. Kalau Semeru ini TNBTS katanya bisa mengendalikan dan tidak membutuhkan bantuan pemadaman via udara,” tutupnya.

Sebagai informasi, kebakaran hutan di Semeru awalnya terjadi di Blok Kelik, Arcopodo dan Kalimati sejak 17 September. Api kemudian merembet ke resor Ranu Kumbolo tepatnya di Gunung Kepolo dan Oro-oro Ombo hingga saat ini ke Ranupani.

Sejak kebakaran meluas, TNBTS memutuskan untuk menutup jalur pendakian. Belum dapat dipastikan kapan jalur pendakian akan dibuka.

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved