Malang Raya

Siswa MIN 1 Kota Malang Ada yang Positif Carrier Difteri, Kemenag Masih Konsultasi soal Libur

CARRIER DIFTERI - Ternyata ada 10 yang carrier positif. Akhirnya disisir termasuk siswa kelas lain yang mungkin terkoneksi dengan siswa kelas 5.

Siswa MIN 1 Kota Malang Ada yang Positif Carrier Difteri, Kemenag Masih Konsultasi soal Libur
sylvianita widyawati
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Muchtar Hazawawi, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Malang dan perwakilan komite serta dinkes bertemu dengan 53 POS (Paguyupan Orangtua Siswa) di aula sekolah, Senin (21/10/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Muchtar Hazawawi, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Malang dan perwakilan komite serta dinkes bertemu dengan 53 POS (Paguyupan Orangtua Siswa) di aula sekolah, Senin (21/10/2019).

Hal ini karena keresahan adanya sejumlah siswa yang positif carrier difteri. Namun ada juga yang negatif. Sedang usulan sekolah diliburkan, Kepala Kemenag akan konsultasi ke Kakanwil Jatim dulu.

"Tunggu hasil konsultasinya. Nanti hasilnya akan diumumkan," jawab Muchtar. Dari pertemuan itu diketahui, ada juga ortu yang melakukan swap mandiri untuk anaknya. Masalahnya adalah berupa swap langsung (direct) bukan swap kultur. Sehingga hasilnya beda. Sebab dengan swap kultur bisa diketahui karena hanya bakteri difteri yang terlihat. "Tidak ada siswa MIN 1 yang kena penyakit difteri. Tapi hanya carrier," jelas Kepala Kemenag pada wartawan usai pertemuan.

Karena itu, diambil keputusan, yang positif saat swap pertama, maka harus melakukan swap lagi sampai hasilnya negatif. Sedang siswa yang positif jika di rumah tetap bisa belajar dengan online tanpa mengurangi haknya. "Jadi yang sakit tetap diberlakukan haknya," jelas Muchtar. Menurut Suyanto, Kepala MIN 1, indikasi awal informasi difteri itu saat ada siswa kelas 5 dirawat di sebuah RS.

"Itu tanggal 20 September 2019 lalu. Ada gejala mirip difteri. Tapi setelah diswap negatif," jelasnya.

Info itu kemudian berkembang. Akhirnya siswa kelas 5 sebanyak satu kelas diswap.

Ternyata ada 10 yang carrier positif. Akhirnya disisir termasuk siswa kelas lain yang mungkin terkoneksi dengan siswa kelas 5. Sehingga jadi 19 anak yang carrier. Jumlah siswa ada 1200.

Dikatakan Suyanto, anak yang carrier kondisinya tampak sehat seperti biasa. "Besok giliran kelas 4 yang akan melakukan swap," kata dia. Untuk swap, dilakukan mandiri oleh orangtua siswa dengan kerjasama Lab Mikrobiologi UB karena relatif terjangkau Rp 50.000. Dalam rapat itu juga diputuskan kepala kemenag memohon pada komite sekolah membantu biaya melakukan swap kedua.

Sebab uang komite berasal dari orangtua siswa ada yang dikembalikan ke siswa. Sedang yang belum swap juga diharapkan melakukannya. "Kan ada juga yang tak mau swap, tapi minum obat. Tapi kan belum tahu apa positif atau negatif, " jawab Muchtar. Maka amannya ya semua diswap. Sehingga diketahui berapa pastinya yang carrier positif dan negatif. Dengan kondisi ini, maka di MIN 1, sebagian besar menggunakan masker.

Baik siswa, guru juga walimurid. Seorang siswa saat ditanya suryamalang.com menjawab sudah lama memakai masker yang menutup mulut dan hidung. "Sudah agak lama," jawab siswa yang sedang bermain dengan temannya. Keduanya memakai masker.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved