Breaking News:

Malang Raya

Skizofrenia Jadi Alasan Tim Pengacara Pemutilasi di Pasar Besar Malang Minta Hakim Cabut Perkara

Skizofrenia Jadi Alasan Tim Pengacara Pemutilasi di Pasar Besar Malang Minta Hakim Cabut Perkara

Penulis: Aminatus Sofya | Editor: yuli
aminatus sofya
Sugeng Angga Santoso, terdakwa perkara mutilasi terhadap perempuan di Pasar Besar Kota Malang, mengajukan eksepsi atau nota keberatan, di Pengadilan Negeri (PN) Malang, Senin (28/10/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Para pembela Sugeng Angga Santoso, terdakwa mutilasi di Pasar Besar Kota Malang, coba menonjolkan bukti bahwa kliennya mengidap skizofrenia.

Hal itu diungkapkan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Malang, Senin (28/10/2019).

“Kalau merujuk ke pengertian medis, skizofrenia ini adalah salah satu gangguan kejiwaan di mana si penderitanya sering mengalami perasaan yang tidak stabil,” ujar salah satu penasihat hukum Sugeng, Ilhamul Huda Alfarisi. 

Kata Ilhamul, fakta perihal gangguan kejiwaan Sugeng tertuang dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh polisi.

Di BAP, Sugeng disebut memiliki kepribadian yang agresif, berciri obsesif serta tingkah lakunya cenderung impulsif. Hasil pemeriksaan itu kemudian menyimpulkan bahwa pria 49 tahun itu menderita Skizofrenia.

“Yang bersangkutan atau Sugeng ini bahkan tercatat sebagai pasien di RS Jiwa Radjiman Wediodiningrat, Lawang,” ungkapnya.

Mengacu pada fakta itu, Ilhamul menilai perkara hukum terhadap Sugeng tidak dapat dilanjutkan. Karenanya dalam persidangan, penasihat hukum Sugeng meminta majelis hakim yang diketuai Dina Pelita Asmara mencabut perkara dan membatalkan surat dakwaan jaksa.

“Kalau dihentikan berarti solusinya adalah rehabilitasi, bukan pidana. Ya dirawat orang dengan gangguan kejiwaan ini,” pungkas Ilhamul.

Pengacara Sebut Tidak Ada Uraian Motif Sugeng Mencacah Tubuh Perempuan di Pasar Besar Kota Malang

Sebagai informasi, kasus pembunuhan disertai mutilasi oleh Sugeng pertama kali terungkap saat pedagang di Pasar Besar Kota Malang mencium bau tak sedap di lantai 2 pada 14 Mei lalu.

Setelah dicari, warga menemukan sebuah potongan tangan dan kaki yang tercecer di bawah dan anak tangga.

Sehari setelahnya, polisi membekuk Sugeng di Jalan RE Martadinata. Kepada polisi, keterangan Sugeng sempat berubah-ubah. Hingga akhirnya, dia mengaku membunuh dan memutulasi seorang perempuan menggunakan gunting.

Hingga kini, identitas korban mutilasi Sugeng masih menjadi misteri.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved