Viral Lem Aibon di APDB 2020, Ini Dampak Buruk Jika Sering Hirup Lem, Bisa Rusak Otak
Inilah beberapa dampak buruk Lem Aibon jika dihirup berkali-kali, rupanya bisa menyebabkan kerusakan otak.
Penulis: Raras Cahyaning Hapsari | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM - Inilah beberapa dampak buruk Lem Aibon jika dihirup berkali-kali, rupanya bisa menyebabkan kerusakan otak.
Lem Aibon tengah ramai diperbincangkan hingga viral di medsos seperti Facebook dan Instagram.
Viralnya Lem Aibon tak lepas dari beredarnya anggaran Lem Aibon dari pemerintah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menganggarkan Rp 82,8 miliar untuk pembelian lem Aibon dalam program belanja alat tulis kantor 2020.
Hal itu heboh diperbincangkan oleh warganet di media sosial setelah salah satu anggota DPRD DKI, William Aditya Sarana, mengunggah temuan tersebut ke akun Instagramnya @willsarana.
Hal ini pun menyebabkan kehebohan di kalangan netizen.
Lem Aica-Aibon, atau yang lebih terkenal bernama lem aibon sendiri adalah lem perekat serbaguna yang sering digunakan untuk merekatkan kayu, logam, dan lainnya.
Namun juga beredar kabar miring bahwa lem aibon ini sering disalahgunakan oleh anak-anak hingga orang dewasa untuk hal yang tidak baik.
Usut punya usut, lem Aibon sering kali dijadikan bahan untuk mabuk oleh siswa di kota-kota besar.
Berikut ini sejumlah dampak buruk dari lem Aibon, dikutip dari situs resmi Aica, Rabu, 30 Oktober 2019.
1. Kerusakan Otak
Menghirup lem Aibon juga dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan dan dapat membahayakan sistem saraf.
Gejala yang mungkin terjadi termasuk sakit kepala, mual, pusing, kantuk dan kebingungan.
Paparan yang parah dapat menyebabkan ketidaksadaran, hingga kerusakan otak.
2. Sebabkan Kulit Bengkak
Jika terpapar pada kulit akan menyebabkan iritasi sedang hingga berat.
Gejalanya meliputi rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan.
Itu karena lem ini dapat diserap melalui kulit dan dapat menyebabkan efek seperti yang dijelaskan untuk inhalasi.
Untuk efek paparan jangka panjang (kronis) sendiri, dapat menyebabkan kulit kering, merah, pecah-pecah (dermatitis) setelah terjadi kontak dengan kulit.
Paparan terhadap bahan kimia ini, juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
3. Bahaya bagi Ginjal
Efek pada penglihatan warna telah dilaporkan, tetapi bukti tidak dapat disimpulkan.
Dapat membahayakan sistem saraf.
Kesimpulan tidak dapat ditarik dari studi terbatas yang tersedia.
Namun, pada konsentrasi tinggi dapat membahayakan ginjal.
4. Sebabkan Halusinasi
Toluena dapat diserap ke dalam tubuh melalui inhalasi, pencernaan dan kontak kulit.
Paparan toluena telah dikaitkan dengan pusing, halusinasi, masalah jantung dan dapat merusak janin.
Mereka yang terpapar dan menghirup toluena secara berlebihan kerap kali menimbulkan gejala seperti kelelahan.
Selain itu juga akan pusing, sakit kepala, kehilangan koordinasi atau pendengaran, euforia, insomnia, iritasi mata dan hidung.
Anggaran Lem Mencapai Rp 82,8 M
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebut menganggarkan Rp 82,8 miliar untuk pembelian lem Aibon dalam program belanja alat tulis kantor 2020.
Hal itu heboh diperbincangkan oleh warganet di media sosial setelah salah satu anggota DPRD DKI, William Aditya Sarana, mengunggah temuan tersebut ke akun Instagramnya @willsarana.
Dalam akunnya, politisi PSI itu awalnya mempermasalahkan sampai sekarang publik belum bisa mengakses dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 di situs apbd.jakarta.go.id.
Padahal, pembahasan anggaran sudah dimulai di DPRD.
Dalam unggahannya ia menuliskan:
"MURID DI SEKOLAH DKI JAKARTA DISUPLAI 2 KALENG LEM AIBON SETIAP BULAN"
"Sampai sekarang publik belum bisa mengakses dokumen APBD 2020 di apbd.jakarta.go.id ..."
Padahal pembahasan anggaran sudah dimulai di DPRD.
Dilansir dari Kompas.com pada (30/10/2019) dalam artikel berjudul 'Anggaran Lem Aibon Rp 82,8 Miliar Disdik DKI untuk Murid Dipertanyakan', William Aditiya melanjutkan:
“Namun kami berhasil mendapatkan cara untuk mengaksesnya."
"Lalu kami temukan anggaran yang cukup aneh lagi yaitu pembelian lem Aibon sebesar Rp 82 miliar lebih oleh Dinas Pendidikan,” Selasa (29/10/2019).
Dalam anggaran itu, lem Aibon hendak diberikan kepada 37.500 murid.
Namun setelah dihitung, anggaran tersebut sesuai dengan total pembelanjaan.
Di mana rinciannya ialah lem aibon senilai Rp184.000 dikalikan 37.500 lem dan dikali 12 bulan.
Dari situs tersebut, apbd.jakarta.go.id, sudah tidak bisa diakses dan sudah tidak ada keterangan tentang penganggaran lem aibon.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengaku akan mengecek ulang pengajuan anggaran dalam dokumen rancangan KUA-PPAS 2020.
Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Susi Nurhati mengomentari temuan politisi PSI William Aditya Sarana mengenai anggaran untuk pembelian lem Aibon sebesar Rp 82,8 miliar.
"Ini sepertinya salah ketik, kami sedang cek ke semua komponennya untuk diperbaiki, " kata Susi Nurhati saat dihubungi di Jakarta, Selasa (29/10/2019) malam.
Susi menyatakan, dalam usulan anggaran dinas melalui Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Kota Jakarta Barat itu, item yang diusulkan berupa kertas dan tinta saja dan menegaskan tidak ada pengajuan anggaran untuk pembelian lem aibon.
Ia menyebut bahwa pihaknya akan menyelidiki hal ini lebih lanjut.