Malang Raya
10 Perempuan Terlibat Terorisme Indonesia, 15 Pakar Perdamaian & Ekstremisme Asia Pasifik ke Malang
Hingga 2019, sebanyak 10 orang perempuan terlibat sebagai pelaku terorisme di Indonesia, yang terbar terbaru istri dari bomber Medan
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Hingga 2019, sebanyak 10 orang perempuan terlibat sebagai pelaku terorisme di Indonesia.
Pada 2018 saat ada bom Surabaya dan Sidoarjo, tercatat ada 11 anak dan tiga perempuan.
Kasus terbaru adalah istri dari bomber Medan yang merencanakan bom bunuh diri Bali dalam waktu dekat.
• Gadis 19 Tahun Jadi Muncikari di Jombang, Tawarkan Wanita Penghibur dengan Tarif Rp 1 Juta
• Agil Munawar Siap Kawal Pergerakan Rohit Chan & Ramdani Lestaluhu di Laga Arema FC vs Persija Besok
• Jelang Arema FC VS Persija Jakarta, Pelatih Milomir Seslilja Persiapkan Senjata Pamungkas Baru
Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN), Ruby Kholifah, menyebut adanya keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri sebagai adanya perubahan tren terorisme.
”Semula perempuan jihad menjaga keluarga, dan menjaga komitmen suami jihad yaitu laki-laki jihad di medan perang. Lalu, perempuan mendukung secara ekonomi jihadnya suami,” ungkap perempuan penerima N-Peace melalui rilisnya, Jumat (22/11/2019).
Dikatakan, banyak faktor mengapa perempuan terlibat dalam aksi itu.
Seperti faktor kemiskinan, media sosial, keyakinan akan kebenaran tunggal, perasaan kurang diakui di keluarga, kurangnya komunikasi dengan orangtua dan janji manis dari faktor eksternal.
”Untuk itu, kami percaya bahwa keterlibatan yang produktif dengan wacana tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam pencegahan kekerasan ekstremisme akan memberikan dasar yang lebih baik tentang akar penyebab keterlibatan perempuan dalam faktor-faktor ekstremisme,” papar Ruby.
Karena itu pihaknya akan menggelar Indonesia Peacebuilder Forum 2019 yang akan dilaksanakan di 26 – 28 November 2019 di Malang.
Acara itu akan bekerjasama dengan Universitas Brawijaya Malang.
Acara ini rencananya menghadirkan lebih dari 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik.
Antara lain Azyumardi Azra , Amalina Abdul Nasir (Singapore) dan Melisa Johnson (Australia).
Serta akan dihadiri oleh 300 orang peserta dari kawanan Asia Pasifik juga.
Pengalaman dan pengetahuan tentang pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme dan pendekatan gender serta ulasan tentang bagaimana pendekatan gender digunakan untuk menanggapinya.
Selain itu juga agar dapat menyusun strategi kebijakan dan intervensi di masa depan pada pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme.
Dikatakan, "Indonesia Peacebuilders Forum 2019" merupakan upaya untuk menjadi platform di mana para praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, dan sektor swasta dapat bertemu untuk mencerminkan dan mendorong pendekatan seluruh masyarakat dengan kepatuhan terhadap kesetaraan gender dan hak asasi manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/kisah-istri-teroris-yang-dipenjara-di-malang-2-bulan-lagi-bebas-ini-pekerjaan-yang-akan-dilakoni.jpg)