Minggu, 31 Mei 2026

Malang Raya

Prof Dr Suhartono SSi MKom, Gubes Pertama Di Fakultas Saintek UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Prof Dr Suhartono SSi MKom dikukuhkan sebagai guru besar (Gubes) ke 19 di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
uin-malang.ac.id
Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Prof. Dr. Suhartono, S.Si., M. Kom usai dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Komputer. Rabu (11/12). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Prof Dr Suhartono SSi MKom dikukuhkan sebagai guru besar (Gubes) ke 19 di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, di bidang ilmu komputer, Rabu (11/12/2019).

Ia menjadi Gubes pertama di Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek).

"Penelitian saya mengenai kecerdasan buatan di bidang pendidikan," jelas Suhartono pada SURYAMALANG.COM, Rabu (11/12/2019).

"Kecerdasan buatan membuat sistem pendidikan adaptif dan bisa diakses semua masyarakat," jelas Suhartono.

Penerapan dan pemanfaatan kecerdasan buatan bisa dalam bentuk robot, smartphone atau website.

Sehingga nantinya bisa belajar tanpa dosen, bisa jadi terwujud dosen virtual.

"Cari dosen sekarang juga susah," kata dia. Dan disebutnya, kadang ada masanya dimana mahasiswa bosan dengan belajar. Dan dosen memberikan materi yang mungkin belum dimengerti mahasiswa.

"Misalkan belum mengerti matematika, tapi dosen sudah bicara soal integral," jawabnya.

Dikatakan, pemanfaatan kecerdasan buatan sesuai dengan yang dicanangkan Mendikbud dalam 10 tahun, Indonesia harus bisa membuat pembelajaran adaptif.

"Masa tanya penambahan saja harus ke dosen? Bisa memanfaatkan kecerdasan buatan," kata dia.

Peran dosen/guru tetap ada terutama untuk pembentukan karakter.

Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg mengapresiasi orasi ilmiah Suhartono.

Menurutnya, meski Suhartono merupakan profesor bidang ilmu komputer, namun juga bicara soal pendidikan terutama pemanfaatan kecerdasan buatan untuk diaplikasikan di bidang pendidikan.

"Perguruan tinggi harus adaptif. Jika tidak akan akan seperti Nokia dan Kodak yang kurang mengantisipasi era disrupsi," katanya.

Dikatakan, era revolusi 4.0 mengalami perubahan amat cepat termasuk dalam pembelajaran.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved