Minggu, 3 Mei 2026

Benarkah Obat Penangkal Corona Ditemukan? Katanya Harga Murah & Mudah Ditemukan Tapi Bukan Jahe

Benarkah Obat Penangkal Corona Ditemukan? Katanya Harga Murah & Mudah Ditemukan Tapi Bukan Jahe

Tayang:
Penulis: Frida Anjani | Editor: Adrianus Adhi
Kompas.com
Benarkah Obat Penangkal Corona Ditemukan? Katanya Harga Murah & Mudah Ditemukan Tapi Bukan Jahe 

SURYAMALANG.COM - Beginilah penampakan obat mujarab penangkal virus corona atau Covid-19 yang baru saja ditemukan oleh para peneliti. 

Bukan jahe, obat mujarab penangkal virus corona terbaru yang baru saja ditemukan oleh para ahli ini mudah ditemukan di pasar. 

Selain mudah ditemukan, obat mujarab penangkal virus corona ini dibanderol dengan harga yang murah. 

Penampakan Obat Mujarab Penangkal Corona Bukan Jahe, Harganya Murah dan Mudah Ditemukan di Pasar
Penampakan Obat Mujarab Penangkal Corona Bukan Jahe, Harganya Murah dan Mudah Ditemukan di Pasar (Kompas.com)

Penyebaran virus corona di dunia hingga di Indonesia membuat banyak peneliti yang berlomba-lomba menemukan vaksin atau penangkalnya. 

Sebelumnya sempat beredar jika jahe, tanaman herbal yang kerap ditemukan di Indonesia ini bisa menjadi salah satu bahan penangkal virus corona atau Covid-19

Pada penelitian terbaru, para peneliti menemukan makanan baru yang disebut bisa menangkal penyebaran virus corona atau Covid-19.

Jika sebelumnya, jahe disebut bisa mencegah, kali ini ubi ungu disebut ampuh.

Kabar mengenai jahe dapat menjadi obat pencegah covid - 19 membuat harganya melonjak tinggi.

Diantaranya harga jahe di Pasar Baru Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Sebelum pemberitaan mengenai penyebaran COVID - 19 harga jahe memang naik.

Tetapi hanya menyentuh harga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram.

Namun belakangan, ternyata ubi ungu juga bisa menangkal wabah virus corona atau covid-19.

Konsumsi ubi ungu sebagai asupan meningkatkan imunitas dalam menghadapi wabah covid 19.

Hal itu dikatakan Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Kementerian Pertanian (Kementan), Yuliantoro Baliadi.

Dia mengajak masyarakat untuk mulai konsumsi ubi ungu tersebut.

Dikutip dari Tribunnews dalam berita berjudul "Tangkal Virus Corona Dengan Mengkonsumsi Ubi Ungu", Yuliantoro mengungkapkan jika ubi ungu sangat bagus dikonsumsi karena mengandung antosianin pemecahan senyawa beracun yang dapat menambah kekebalan dan kebugaran tubuh.

"Kunci utama dalam memberikan perlindungan daya tahan tubuh terhadap virus adalah mengkonsumsi makanan yang mengandung antosianin. Salah satunya lewat ubi ungu," ujar Yuliantoro, Sabtu (21/3).

Pasien Positif Corona di Indonesia Tembus 790, Ini Disinfektan dari Produk Rumah Tangga Anjuran LIPI
Pasien Positif Corona di Indonesia Tembus 790, Ini Disinfektan dari Produk Rumah Tangga Anjuran LIPI (DOK. Humas Dompet Dhuafa via Kompas.com)

Sejak 2014, kata Yuliantoro, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balitkabi telah melepas ubi ungu unggulan dengan nama varietas Antin 3.

Varietas tersebut memiliki kadar antosianin tinggi yaitu 150,7 mg atau 100 g (bb).

"Ubi ungu varietas Antin 3 adalah varietas unggulan yang mengandung kadar antosianinnya tinggi, bahkan lebih tinggi dari varietas yang berasal dari Jepang yaitu varietas Ayamurasaki," katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Kementan, Haris Syahbuddin menjelaskan bahwa ubi ungu adalah panganan fungsional yang kelebihannya sangat bermanfaat untuk kesehatan.

"Berdasarkan deskripsinya, selain ubi ini memiliki kadar antosianinya tinggi, juga memiliki potensi hasil yang tinggi yaitu 30,6 t/ha dan umur panennya 4 - 4,5 bulan.

Varietas ini jiga agak tahan penyakit kudis, tahan hama boleng, toleran kekeringan dan cocok ditanam pada lahan tegalan atau sawah sesudah tanaman padi," katanya.

Sebagai informasi, virus corona adalah jenis virus mematikan karena mampu menular secara cepat dari manusia ke manusia lainya.

Virus ini menular melalui batuk atau bersin orang yang terpapar.

Sampai saat ini belum ada vaksin maupun obat yang biasa mengobati penyakit ini.

Namun demikian, banyak juga yang telah pulih karena sistem kekebalan tubuhnya dapat melawan virus corona.

"Virus corona adalah virus yang menguji daya tahan tubuh, jadi untuk meningkatkan daya tahan tubuh di saat merebaknya virus corona harus mengkonsumsi makanan yang mengandung antosianin," tutupnya. 

Tip Cara Buat Hand Sanitizer di Rumah untuk Cegah Virus Corona, Mudah dan Sesuai Standar WHO
Tip Cara Buat Hand Sanitizer di Rumah untuk Cegah Virus Corona, Mudah dan Sesuai Standar WHO (Tribunnews.com)

Ubi Ungu Kaya Antioksidan

Makanan dengan kandungan antioksidan tinggi sering disebut sebagai makanan fungsional atau superfood.

Dari Indonesia, ubi ungu termasuk dalam makanan yang murah dan unggul dalam kandungan antioksidan.

Antioksidan yang terdapat dalam ubi ungu adalah antosianin.

Menurut Prof.Ali Khomsan, Guru Besar Gizi Masyarakat dari Institut Pertanian Bogor, antosianin memiliki manfaat sebagai antioksidan, anti-inflamasi dan mampu merelaksasi pembuluh darah.

Keunggulan lainnya adalah mengandung karbohidrat kompleks sehingga tidak cepat membuat gula darah meningkat, tinggi serat, non-gluten, serta mengandung betakaroten yang tinggi.

"Kandungan antosianin dalam ubi ungu sekitar 110 mg, sementara pada ubi putih 0.06 mg dan ubi kuning 4,56 mg. Sementara itu betakaroten ubi ungu mencapai 9.900 mkg, ubi putih 260 mkg, dan ubi kuning 2.900," papar Ali dalam acara temu media di Jakarta (5/9/2016) dikutip dari Kompas.com dalam artikel berjudul "Ubi Ungu, Pangan Lokal Kaya Antioksidan".

Antioksidan sendiri merupakan zat penangkal radikal bebas pemicu penuaan dini, peradangan dalam tubuh, hingga kanker.

Dengan segala kelebihan ubi ungu tersebut, menurut Ali, bahan pangan ini bisa digolongkan ke dalam pangan fungsional.

"Pangan fungsional artinya dapat diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan, dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu," ujarnya.

Umbi-umbian sebenarnya sudah sejak lama dibudidayakan dan dikonsumi oleh masyarakat Indonesia. Namun, semakin lama jumlah konsumsinya terus menurun tergeser oleh meningkatnya konsumsi nasi.

"Makanan berbasis umbi-umbian sebenarnya bisa menjadi pilihan dalam diservifikasi pangan. Kandungan gizinya yang superior berpeluang untuk dikembangkan sebagai makanan pokok untuk mengurangi konsumsi beras," kata Ali.

Bentuk sederhana dari diversifikasi pangan dapat dilakukan melalui diet pelangi atau pola makan yang memasukkan berbagai makanan alami beraneka warna.

Selain itu, pola makan itu juga bisa diperkenalkan sejak anak-anak. Ubi ungu bisa dikonsumsi dengan cara direbus, kukus, panggang, atau dikeringkan untuk dibuat tepung.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved