Minggu, 19 April 2026

Sekolah di Masa Pandemi Covid 19

Ini Curhat Kepala Sekolah di Jember Tentang Pola Pendidikan New Normal Pandemi Covid-19

Meskipun nanti pemerintah pusat memberikan teknis mekanisme pendidikan di tahun ajaran baru, sebaiknya Pemda setempat juga memiliki kebijakan lokal.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Pengumuman kelulusan murid kelas IX SMPN 7 Jember menerapkan protokol keselamatan di masa pandemi Corona 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Kepala sekolah di Jember juga memiliki pendapat beragam menyambut pendidikan di era tatanan baru 'New Normal', terutama di tahun ajaran baru 2020/2021 Juli mendatang.

SURYAMALANG.COM berbincang dengan beberapa orang kepala sekolah di Kabupaten Jember pada Jumat (5/6/2020).

Kepala SMPN 1 Tempurejo Maryanto memilih tetap dipakainya pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dipakai di awal tahun ajaran baru mendatang.

"Kalau saya sebaiknya diteruskan pembelajaran jarak jauh, ini untuk keselamatan anak-anak kita. Karena situasi Covid-19 yang masih seperti ini," ujar Maryanto.

Dia menambahkan, meskipun nantinya pemerintah pusat memberikan teknis mekanisme pendidikan di tahun ajaran baru, sebaiknya pemerintah daerah (Pemda) setempat juga memiliki kebijakan lokal.

"Karena Pemda setempat yang paling tahu, seperti kondisi Jember ini yang tahu kan Pemda-nya. Apakah PJJ diberlakukan sampai jadi zona hijau," imbuhnya.

Umpama nanti ada opsi pembelajaran konvensional dengan cara bergilir, atau ruangan diisi 50 persen peserta didik, cara itu juga masih mengkhawatirkan jika angka Covid-19 masih tinggi, dan penyebarannya masih cepat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala SMP Negeri 1 Arjasa Murtini.

Dia juga memilih penerapan PJJ di tahun ajaran baru mendatang.

"Kalau umpama ada opsi daerah zona hijau yang masuk (pembelajaran konvensional), apa itu bisa menjamin. Oke, seperti SMPN 1 Arjasa berada di desa zona hijau, tapi Kecamatan Arjasa masuk zona merah (ada yang terkonfirmasi positif). Kalau masuk biasa, jujur rasa ketakutan dan kekhawatiran itu masih ada," ujar Murtini.

Sementara, anak didik SMPN 1 Arjasa berasal dari beberapa desa di Kecamatan Arjasa.

Meskipun dia mengakui, ada kelemahan dalam PJJ, namun sebaiknya pembelajaran konvensional tidak diterapkan di awal tahun ajaran baru mendatang.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Mumbulsari Susi Ariani berpendapat sebaiknya pembelajaran konvensional dipakai, asalkan dengan penerapan protokol keselamatan.

"Karena anak-anak sudah lama dan jenuh belajar di rumah. Pendidikan karakter sulit diterapkan jika pembelajaran jarak jauh terus. Kayak sekarang, anak-anak ini rambutnya sudah disemir macam-macam karena tidak usah ke sekolah," ujarnya.

Selain itu untuk kawasan Kecamatan Mumbulsari, lanjutnya, PJJ tidak ditopang jaringan internet secara maksimal.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved