Hasil Rapid Test Covid-19 Pria NTT Reaktif Hamil, Petugas Pasrah Digeruduk Warga, Faktanya Terungkap

Hasil rapid test Covid-19 pria NTT reaktif hamil, petugas pasrah digeruduk warga, faktanya terungkap

Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Adrianus Adhi
Suryamalang.com/kolase tribunjabar/mega nugraha/SHUTTERSTOCK
Ilustrasi pria melakukan Rapid Test 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Hasil rapid test Covid-19 pria NTT reaktif hamil belum lama ini membuat geger warga.

Pasalnya, warga tidak terima dengan hasil rapid test Covid-19 yang dianggap tak masuk akal itu dan menilai ada kecerobohan.

Fakta sebenarnya baru terungkap usai juru bicara gugus tugas Covid-19 angkat bicara dan memberi klarifikasi. 

Kronologi rapid test Covid-19 pria NTT reaktif hamil berawal saat seorang pria asal Kabupaen Rote Ndao bernama Ariyanto Boik menjalani isolasi di rumah susun setempat.

Sejumlah keluarga Ariyanto Boik datangi Rusun penampung pasien ODP Covid-19 di Kabupaten Rote Ndao, NTT, untuk memprotes hasil rapid tes
Sejumlah keluarga Ariyanto Boik datangi Rusun penampung pasien ODP Covid-19 di Kabupaten Rote Ndao, NTT, untuk memprotes hasil rapid tes (Istimewa via Kompas.com)

Ariyanto Boik diisolasi karena memiliki riwayat perjalanan dari wilayah berisiko.

Betapa terkejutnya Ariyanto Boik dan keluarganya saat mendapati hasil rapid test.

Berdasarkan laporan hasil laboratorium rumah sakit setempat, hasil rapid test Ariyanto Boik adalah reaktif hamil.

Melihat hasil tes itu, sejumlah orang tidak terima dan menggeruduk lokasi karantina Rusun Ne'e, Desa Sanggaoen, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Mereka marah lantaran hasil rapid test Covid-19 anggota keluarga mereka yang bernama Ariyanto Boik adalah reaktif hamil.

Mereka ingin meminta penjelasan dari petugas perihal hasil repid test pria NTT reaktif hamil tersebut.

"Kami minta petugas jangan main-main dengana penyakit ini, karena sudah memakan banyak korban," kata salah seorang anggota keluarga, Naomi Toulasik dikutip dari Kompas.com artikel 'Hasil Rapid Test Pria Ini Malah Reaktif Hamil' (14/6/2020).

Ilustrasi rapid test virus corona
Ilustrasi rapid test virus corona (Shutterstock)

Naomi Toulasik menduga, petugas medis di Rusun Ne'e tak menjalankan tugas dengan baik.

Sejumlah orang mendatangi lokasi karantina penampungan ODP virus corona (Istimewa)

Sehingga antara tujuan pemeriksaan dengan hasilnya tidak sejalan.

Sementara, kakak kandung Ariyanto Boik, Ferdinan Boik membenarkan pihak keluarga telah mendatangi lokasi karantina.

Namun ketika ditanya mengenai hasil rapid test yang dianggap membingungkan itu, petugas belum memberikan jawaban.

"Petugas hanya pasrah saja. Katanya silakan lapor saja, di mana pun," kata dia.

Ilustrasi rapid test Covid-19
Ilustrasi rapid test Covid-19 (SHUTTERSTOCK)

Kasus tersebut juga telah ditanggapi oleh Juru Bicara Gugus Tugas penangan Covid-19 di wilayah setempat.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Nda, Widyanto P Adhy mengakui adanya kekeliruan dalam hasil rapid test Ariyanto Boik.

"Hari ini, kami mengakui kesalahan itu dan mengoreksinya dengan menerbitkan hasil pemeriksaan laboratorium yang benar," kata dia, Sabtu (13/6/2020).

Namun, Widyanto P Adhy enggan merinci bagaimana proses rapid test bisa berujung pada hasil yang membingungkan.

"Menurut saya, tidak penting diberitakan bagaimananya. Tapi yang sudah dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kesalahan yang sama lagi," kata Widyanto P Adhy. 

Widyanto P Adhy mengaku telah melakukan pembinaan staf serta konsolidasi internal.

Metode dan Prosedur Rapid Test Virus Corona

Seperti diketahui, Presiden Jokowi meminta tes menggunakan rapid test secara masal sebagai salah satu upaya pencegahan penularan virus corona yang tengah mewabah di Indonesia.

Rapid test atau uji cepat yang handal untuk melacak infeksi virus SARS-CoV-2, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, diyakini menjadi jurus paling ampuh untuk memperlambat penyebaran virus corona.

Lewat metode uji cepat, korban infeksi dan potensi munculnya "titik panas" COVID-19 bisa terdeteksi lebih dini. 

Dengan begitu pasien bisa dengan cepat memasuki masa karantina di fasilitas-fasilitas medis yang sudah disiapkan, atau kalau gejalanya ringan, bisa dikarantina di rumah.

Namun banyak hal dan prosedur yang harus dilewati untuk dapat melakukan uji cepat virus corona.

lustrasi peneliti sedang bekerja di laboratorium
lustrasi peneliti sedang bekerja di laboratorium (THINKSTOCKPHOTOS)

Di negara maju seperti Jerman, ada regulasi yang mengatur prosedurnya.

Juga ketersediaan alat tes, kapasitas laboratorium, jumlah tenaga ahli serta bagaimana penanganan sampel, menjadi faktor penting dalam rapid test.

Penanganan sampel yang keliru bisa menghasilkan diagnosa yang salah pula.

Juga terlihat, saat wabah pertama kali berkecamuk di Wuhan, kapasitas laboratorium, peralatan dan tenaga ahli dalam waktu singkat tidak lagi mampu menangani lonjakan jumlah pasien.

Uji cepat pada prinsipnya hanya dibatasi pada dugaan kasus.

Pasalnya tes secara massal, selain tidak logis juga nyaris mustahil dilaksanakan.

Gejala batuk-batuk atau demam ringan, juga tidak identik dengan infeksi COVID-19.

Mereka yang harus dites adalah yang menunjukkan gejala radang paru-paru dengan penyebab tidak jelas.

Gejala yang mecolok adalah kesulitan bernafas, batuk kering dan demam.

Ilustrasi petugas penanganan virus corona atau Covid-19
Ilustrasi petugas penanganan virus corona atau Covid-19 (Tribunnews.com)

Apalagi jika mereka pernah mengunjungi kawasan risiko atau kontak langsung dengan penderita COVID-19.

Kelompok inilah yang punya argumen kuat untuk menjalani tes cepat alias rapid test.

Secara umum di Jerman berlaku kesepakatan, bahwa yang menentukan apakah Rapid Test perlu dilakukan atau tidak, adalah para dokter yang punya kewenangan.

Robert-Koch-Institut yang merupakan jawatan independen Jerman untuk penyakit infeksi dan penyakit menular, saat ini juga melakukan tes acak pada pasien dengan gejala batuk dan demam.

Biaya satu kali tes cepat virus corona di Jerman sekitar 200 Euro atau sekitar 3,5 juta Rupiah yang ditanggung asuransi kesehatan.

Bagaimana cara tes cepat?

Para pasien biasanya diambil sampel dari saluran pernafasan atas, berupa cairan hidung dan atau tenggorokan.

Robert-Koch-Institut menyarankan, pada dugaan kasus infeksi, sampel harus diambil dari saluran pernafasan bawah.

Misalnya sekret yang berasal dari saluran bronkhium atau paru-paru.

Sampel kemudian akan diteliti di laboratorium diagnostik untuk memastikan infeksi oleh virus Corona. Prosedurnya berbasis pada apa yang disebut reaksi berantai polymerase (PCR).

Pengujian semacam ini biasanya berlangsung selama 5 jam, dan kini menjadi prosedur standar di laboratorium.

Potongan DNA yang dipilah secara terarah dan diperbanyak dalam perangkat blok Thermocycler, yang secara mandiri mengatur siklus temperatur saat PCR.

Prosedur tersebut akan menunjukkan, apakah ada atau sebanyak apa unsur patogen, misalnya virus corona, dalam tubuh.

Hasil tes cepat biasanya diperoleh dalam waktu satu atau dua hari.

Hasilnya, apakah negatif atau positif akan diinformasikan kepada dokter dan pasien bersangkutan.

Jika hasil tes virus corona positif, juga lembaga kesehatan lokal mendapat informasinya.

Setelah itu pasien akan diperintahkan untuk melakukan karantina.

Jika kasusnya berat pasien harus dikarantina dan dirawat di rumah sakit yang sudah menyiapkan ruang isolasi.

Sementara jika kasusnya ringan, pasien bisa dikarantina di rumah dalam kurun waktu hingga dinyatakan sembuh dan tidak menularkan virus. Dikutip dari Kompas.com artikel 'Rapid Test untuk Tes Massal Corona, Ini Metode dan Prosedurnya'

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved