Travelling
Akademisi UB Khawatirkan Timbul Gelombang Dua Pandemi Covid-19, Waspadai Tipikal Wisatawan Nekat
Industri pariwisata harus benar-benar menganalisis segala risiko dan kemungkinan yang timbul dengan dibukanya industri yang membuat kerumunan
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
Para pelaku pariwisata juga harus membuat strategi komunikasi pemasaran yang mengkampanyekan kesiapan industri pariwisata untuk memberikan keyakinan kepada wisatawan bahwa destinasi wisata sudah siap menerima kunjungan dengan memperhatikan 3K tersebut.
Karena itu, strategi komunikasi pemasaran ini harus dijalankan minimal tiga minggu berturut-turut sebelum industri pariwisata beroperasional.
Pelaku pariwisata harus menyosialisasikan hal-hal yang harus diketahui dan dipatuhi oleh para wisatawan serta konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi jika melanggar protokol kesehatan yang telah diterapkan oleh para pelaku pariwisata.
Selain itu, pelaku pariwisata juga harus menyediakan berbagai macam bentuk medium komunikasi dengan wisatawan seperti pamflet, buku saku, short video, hingga reminder text messages, tentang protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh wisatawan.
Ini harus disampaikan kepada wisatawan sebelum berkunjung, saat berkunjung, dan saat kembali pulang.
Juga disediakan layanan komunikasi interaktif 24 jam melalui berbagai saluran komunikasi yang memudahkan wisatawan menghubungi para pengelola pariwisata saat mereka menghadapi masalah misalnya tiba-tiba sakit.
Diingatkan, strategi ini akan berhasil jika dilakukan jauh sebelum industri pariwisata beroperasi dan adanya kontinuitas penyampaian sosialisasi saat industri sudah beroperasi