Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

6 Strategi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Saat Hadapi Tahun Ajaran Baru

Disdikbud Kota Malang telah membuat strategi jitu yang disosialisasikan ke sekolah-sekolah maupun orang tua siswa.

SURYAMALANG.COM/M Rifky Edgar
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang Dra Zubaidah MM 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang (Disdikbud) kini telah melakukan berbagai macam persiapan dalam menyambut ajaran baru yang dimulai pada tanggal 13 Juli 2020 mendatang.

Hal tersebut setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim telah memutuskan bahwa sekolah diperbolehkan masuk ke sekolah asalkan daerah tersebut masuk ke dalam zona hijau.

Sedangkan untuk zona merah, kuning dan orange, masih tetap masuk asalkan harus melalui daring ataupun online.

Status Kota Malang yang masuk dalam kategori zona orange, mengharuskan pembelajaran harus dilakukan melalui daring.

Oleh karenanya, Disdikbud Kota Malang telah membuat strategi jitu yang disosialisasikan ke sekolah-sekolah maupun orang tua siswa.

Berikut Enam strategi yang telah dibuat oleh Kepala Disdikbud Kota Malang, Zubaidah melalui wawancara eksklusif dengan SURYAMALANG.COM :

1. Kalender Pendidikan Mengikuti Kalender Pendidikan yang Berlaku

Pemerintah pusat setiap tahun sudah memiliki kalender pendidikan. Seperti akhir proses pembelajaran itu tanggal berapa,
Jadi yang kemarin ada Covid-19 itu tidak ada panduan, kapan ini adanya dan harus menggunakan kalender terkahir tanggal 22 Mei 2020.

Baru setelah diadakan evaluasi untuk kenaikan kelas dan ujian, kami Disdikbud Kota Malang telah menyiapkan panduan untuk sekolah.

Misalkan tanggal sekian sampai sekian untuk evaluasi nilai. Tanggal sekian untuk remidi bagi anak yang nilainya kurang. Cara remidinya bagaimana? Ya melalui online atau daring dan begitu seterusnya.

Dan sekarang pun akhirnya sudah selesai semua. Maka dari itu kenaikan kelas dan kelulusan anak kelas 6 SD dan 3 SMP untuk penerimaan siswa.

2. Pembelajaran Secara Offline Menunggu Instruksi dari Kemendikbud

Karena Covid-19 ini tidak ada barang nyatanya dan tidak bisa dilihat, kita takut. Karena kami lebih mementingkan kesehatan siswa dan keluarga besar di dunia pendidikan.

Maka kami tidak berani berspekulasi, misalkan tim gugus tugas Covid-19 mengatakan, bahwa sekolah boleh buka dengan cara tatap muka, oke kami siap. Dan kesiapan itu yang akan kami terapkan ke depan.

Kesiapan itu misalnya, melihat dari jumlah murid di sekolah, pihak sekolah harus menerapkan sesuai dengan protokol kesehatan.

Siswa yang mau masuk sekolah harus dites dulu suhu tubuhnya menggunakan thermogun. Kemudian menyiapkan alat cuci tangan, sabun dan hand sanitizer.

Sekolah juga harus menyiapkan tenaganya juga agar para petugasnya datang lebih awal melayani guru, orang tua dan siswa.

Seperti halnya di Disdikbud, siapapun yang datang ke sini harus dicek kondisi tubuhnya.

Tapi kan Kemendikbud memperbolehkan masuk khusus bagi zona hijau, kita kan belum, jadi ya harus melalui daring dengan kurikulum yang telah kita siapkan.

3. Pembelajaran dengan Pola Hidup Sehat

Pembelajaran ini kan di rumah, meskipun di rumah, tugas kami harus tetap mengingatkan orang tua. Jangan sampai mereka lengah dalam mengawasi anak-anaknya.

Kami tidak ingin, anak-anak ini terus bermain sampai mereka lupa tidak cuci tangan. Jadi kesehatan tetap yang utama.

Oleh karenanya, kami telah menyiapkan edaran dan membuat grup khusus bagi para orang tua wali murid untuk mengingatkan mereka.

Agar harapan kami, orang tua terus mengawasi anaknya meski giat belajar mengajar dilaksanakan di rumah.

4. Pembelajaran Secara Online Dilakukan Dengan Metode yang Lebih Efektif

Dengan metode efektif ini kami telah memiliki banyak contoh yang bisa langsung diterapkan di sekolah.

Seperti kami mendorong agar proses pembelajaran ini tidak perlu bertele-tele. Jadi itu ada pembuka-inti-terakhir.

Nah intinya itu yang harus singkat padat dan jelas. Tidak perlu ribet-ribet. Misalnya seperti pelajaran IPS tentang mata uang Arab Saudi 'Real', tidak usah cerita uang 'Real' seperti apa. Jadi yang langsung contoh iniloh 'Real', iniloh 'Dollar'. Jadi langsung mengena.

Itulah yang kami maksud, dan guru harus memiliki banyak inovasi agar penyampaian metode pembelajaran itu efektif dan menyenangkan bagi siswa.

5. Implementasi Kurikulum Secara Adaptif

Implementasi di lapangan kami lakukan secara adaptif. Di mana kami tetap mengutamakan pendidikan yang berkarakter bagi para siswa.

Jadi kurikulum tetap dilaksanakan sesuai dengan aturan, tetapi proses pembelajaran mengutamakan karakter. Agar anak ini paham dengan materi, tetapi karakterlah yang lebih diutamakan. Misalnya, pintar tapi berkarakter. Bukan pintar saja dalam ilmunya.

Saya sering membuat kalimat, orang berkarakter insyaallah akan pintar, tapi orang pintar belum tentu berkarakter. Contohnya pintar IT tapi tidak dipakai yang tidak benar berarti anak itu tidak berkarakter. Karena anak berkarakter pasti mikir. Jadi anak disiapkan dulu karakternya, baru pintar

6. Pelibatan Orang Tua dan Integrasi dengan OPD Terkait

Sekolah itu harus berkomunikasi dengan orang tua untuk memastikan putra putrinya agar melakukan pembelajaran di dalam rumah.

Koordinasi antar keduanya itu harus berjalan dengan baik, agar para siswa di saat proses belajar berlangsung tidak bermain atau bepergian.

Jadi monitoring harus terus dilakukan pada saat jam efektif. Seperti guru atau orang tua melakukan video call kepada siswa tersebut.

Maka dari itu peran orang tua harus bisa maksimal. Kalau dulu orang tua pasrah, sekarang tidak boleh pasrah. Karena masa depan anak ini juga bergantung dari orang tua.

Dan anak-anak ini merupakan tanggungjawab dari orang tua, pemerintah dan masyarakat.

Mulai dari awal Covid-19 proses komunikasi terus kami genjot melalui grup-grup wali murid yang telah kami bentuk dengan sekolah.

Bagi yang tidak memiliki handphone, ya berarti harus ada upaya lebih dari guru.

Contohnya, ketika saya melakukan monitoring ke sekolah pinggiran di Kota Malang, banyak guru yang mendekati masyarakat sekitar.

Jadi menitipkan informasi kepada tetangganya yang memiliki handphone. Dan saya kira, rasa tanggungjawab dari guru itu begitu besar.

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved