Berita Tulungagung Hari Ini

Pandemi Corona Sempat Turunkan Angka Kecelakaan di Tulungagung, Kini Angkanya Kembali Naik

Masa pendemi corona sempat membuat angka kecelakaan lalu lintas di Tulungagung turun drastis, angka kecelakaan kembali naik.

Penulis: David Yohanes | Editor: isy
david yohanes/suryamalang.com
Kanitlakalantas, Satlantas Polres Tulungagung, Iptu Diyon Fitriyanto menunjuk rekap data kecelakaan. 

SURYAMALANG.COM | TULUNGAGUNG - Masa pendemi virus corona sempat membuat angka kecelakaan lalu lintas di kabupaten Tulungagung turun drastis. Kini, saat mulai didengungkan pemberlakukan new normal, angka kecelakaan kembali naik.

Awal tahun 2020, terjadi 122 kecelakaan, dengan 15 korban meninggal dunia, satu luka brat dan 205 luka ringan. Februari terjadi 122 kecelakaan, dengan 9 orang meninggal dunia, 3 luka berat dan 171 luka ringan.

Maret terjadi 97 kecelakaan, dengan 17 korban meninggal dunia, 1 luka berat dan 184 luka ringan. Sedangkan para April 2020, di awal mulai diberlakukannya masa pandemi di Tulungagung, hanya terjadi 38 kecelakaan. Sebanyak 6 orang meninggal dunia, dan 65 luka ringan.

"Saat itu aturan masih ketat, tingkat kepatuhan warga untuk tinggal di rumah juga masih tinggi," terang Kanit Laka Lantas , Satlantas Polres Tulungagung, Iptu Diyon Fitriyanto, Kamis (2/7/2020).

Bukan ke-2 masa pendemi, Mei 2020 terjadi 53 kecelakaan, dengan 6 korban meninggal dunia, 1 luka berat dan 79 luka ringan.

Namun saat mulai transisi menuju "new normal" di Juni 2020, angka kecelakaan meningkat 73, dengan 16 korban meninggal dunia, dan 105 luka ringan.

Masih menurut Diyon, saat masa pendemi, lalu lintas memang sangat sepi sehingga kejadian kecelakaan juga menurun.

"Juni mulai naik, karena masyarakat euforia setelah dua bulan tinggal di rumah," sambung Diyon.

Jika dibanding tahun 2019, angka kecelakaan lalu lintas di semester pertama 2020 turun sebesar 30 persen.

Namun Diyon memprediksi angka kecelakaan Juli 2020 akan kembali naik.

Sebab bulan ini dimulainya masa tahun ajaran baru, dan masa menuju "new normal".

"Sekali lagi perlu kepedulian kita bersama untuk taat berlalu lintas. Karena penyebab kecelakaan terbesar adalah kelalaian pengemudi yang tidak taat aturan," ungkap Diyon.

Dari 69 korban meninggal dunia, delapan di antaranya meninggal di lokasi.

Sisanya, 61 korban meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit, 1-7 hari setelah kecelakaan.

Ada tiga blackspot atau jalur tengkorak yang dipetakan, yaitu Ngantrum Sukowiyono dan jalur Tulungagung-Ngunut, khususnya di Pulosari.

Blackspot menyumbangkan 40 persen angka kecelakaan lalu lintas di Tulungagung.

Sisanya, 60 persen kejadian menyebar di seluruh wilayah Tulungagung.

Penyebab kecelakaan paling banyak adalah melanggar batas kecepatan dan tidak memperhatikan lajur, hingga tidak bisa menguasai kendaraan.

"Terutama kecepatan, karena ini yang memicu fatalitas," pungkas Diyon.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved