Perjuangan 4 Siswa untuk Sekolah Saat Pandemi Covid-19, Harus Masuk Sarang Ular Demi Belajar Daring

4 siswa di Bandar Lampung harus masuk ke sarang ular demi bisa belajar daring dikarenakan tak memiliki jaringan internet di rumah.

Penulis: Frida Anjani | Editor: Adrianus Adhi
Tribunnews.com dan Tribun Lampung/Deni Saputra
4 siswa di Bandar Lampung harus belajar daring di sarang ular demi mendapatkan koneksi wifi gratis 

SURYAMALANG.COM - Perjuangan luar biasa harus dilakukan oleh empat siswa di Bandar Lampung untuk tetap bisa sekolah saat pandemi covid-19. 

Pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah saat ini ditiadakan dan digantingan dengan belajar daring

Namun, satu kendala proses belajar daring adalah jaringan internet hingga kuota yang mungkin tidak dimiliki oleh seluruh siswa di Indonesia. 

Akhirnya, empat siswa di Bandar Lampung itu rela harus masuk sarang ular untuk bisa mendapatkan sinyal wifi.

Empat pelajar asal Bandar Lampung harus berusaha keras untuk mengikuti sekolah online karena orang tua mereka tak mampu membelikan kuota.

Diketahui, pandemi Covid-19 membuat para siswa harus belajar dari rumah.

Tak hanya itu, sebagian pembelajaranpun dilakukan secara online.

Namun, tak semua anak sekolah bernasib baik, memiliki orangtua yang mampu membelikan kuota internet.

Ali (15), Firnando (15), Rezi (12), dan Faiz (12) tinggal di Jalan Nangka, Gang Stiap, Kelurahan Sepang Jaya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.

Perjuangan 4 Siswa untuk Sekolah Saat Pandemi Covid-19, Harus Masuk Sarang Ular Demi Belajar Daring
Perjuangan 4 Siswa untuk Sekolah Saat Pandemi Covid-19, Harus Masuk Sarang Ular Demi Belajar Daring (Tribun Lampung/Deni Saputra)

Dikutip dari Tribun Lampung dalam berita berjudul, "Masuk Sarang Ular Demi Belajar Daring", keempat pelajar berbeda jenjang tersebut terpaksa memanfaatkan WiFi tetangga sebagai akses internet.

Setiap pagi, mereka duduk berjejer di samping tembok kosan yang memiliki akses internet.

Hanya beralaskan papan, berteduh di bawah pohon pisang, mereka mengikuti pelajaran penuh semangat.

Ali, siswa kelas 10 SMA Gajah Mada, menuturkan mengikuti pelajaran secara daring cukup menguras kuota internet.

Sementara ayahnya, seorang kuli bangunan hanya mampu memberi jatah kuota 1 GB per minggunya.

Sedangkan, kata Ali, kebutuhan untuk mengikuti pelajaran, satu hari bisa memakan Kuota Internet sampai 1 GB lebih.

"Kalau cuma mengirim tugas, paling habis 500 MB, tapi kalau ikut Zoom bisa 1 GB lebih," ujar Ali, Kamis (23/7/2020).

Karena tak ingin memberatkan orang tuanya, Ali setiap pagi, bersama tiga kawannya nongkrong di bawah pohon pisang dekat rumahnya, untuk mendapatkan internet gratis dari WiFi yang dimiliki tetangganya.

Menurut Ali, mereka sudah mendapatkan izin dari sang pemilik kosan untuk menggunakan WiFi tersebut.

Namun, lanjut Ali, pemilik kosan memberikan syarat, untuk tidak menyebarkan kata sandi WiFi ke orang lain.

"Yang punya WiFi sudah meninggal, tapi dia kasih izin kami buat pake WiFi-nya," kata Ali.

Meski sudah ada alternatif lain pengganti kuota, namun Ali dan temannya masih mendapati kendala.

Terutama saat hujan turun, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran pada hari itu.

"Kadang gak bisa absen, kadang juga ngirimnya telat jadi gak diterima lagi sama gurunya," timpal Firnando.

Siswa kelas 9 SMP Negeri 19 Bandar Lampung ini mengaku pasrah saat hujan turun di pagi hari.

Karena tak ada pilihan lain selain menggantungkan akses internet dari WiFi milik tetangga.

"Kalau kuota ada enak, masih bisa kirim tugas, ikut Zoom."

"Ya kalau lagi gak ada, terpaksa absennya dibuat alpa (tidak hadir)," terangnya.

Tak ubahnya Ali, Firnando pun hanya mendapatkan jatah kuota internet dari orang tuanya 1,5 GB per minggu.

Jatah tersebut, diakui Firnando, jauh dari kata cukup, karena penggunaan perhari bisa lebih 500 MB.

Kondisi keuangan ayah Firnando yang hanya bekerja sebagai juru parkir, sangat tidak memungkinkan untuk memberi kuota lebih.

Keberanian Ali dan kawan kawan berburu WiFi tetangga jadi perhatian warga sekitar.

Pasalnya, tempat mereka menyambungkan koneksi internet itu dikenal sebagai tempat atau sarang ular.

Namun, bagi Ali maupun Firnando hal itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap dapat mengikuti pelajaran secara online.

Kedatangan ular maupun hewan liar lain hanya membuat mereka terkejut.

Tak jarang ular tersebut ditangkap sendirian oleh Firnando.

"Gak takut, kadang lagi mau ngirim tugas ada biawak. Pernah juga ada ular sanca tiba-tiba nongol," kata Firnando.

Orang tua Rezi, Eni Murya Sari (38), mengaku prihatin dengan kondisi anaknya.

Dirinya was-was saat anaknya masuk ke dalam kebun pisang demi menyambung internet.

Karena keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan, Erni hanya bisa memantau dari kejauhan.

"Sebenarnya was-was karena di sini sarang ular, tapi mau gimana lagi, mau beli kuota kita gak ada uang," kata Eni.

Karena itu, setiap anaknya berburu WiFi di kebun belakang rumah, Eni memastikan tidak terjadi apa-apa terhadap anaknya.

"Sebentar, sebentar pasti saya panggil. Namanya ibu sama anak pasti cemas, tapi mereka ya biasa saja, gak takut gitu," katanya.

Menurut Eni, sistem belajar daring sangat memberatkan, karena harus menambah pengeluaran selain untuk membeli kebutuhan pokok.

Ia merinci, untuk anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar ini, bisa menghabiskan uang Rp 200 ribu sebulan, hanya untuk beli kuota internet.

"Mending belajar di sekolah saja, dengan uang segitu sudah bisa beli kebutuhan sehari-hari buat sebulan," keluh Eni.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved