Breaking News:

Travelling

Kampung Interniran dan Kisah Warga Belanda Jadi Tahanan Rumah di Kota Malang

Komunitas Heritage Kota Malang mengajak masyarakat berwisata sejarah mengenal Kampung Interniran

SURYAMALANG.COM/Kukuh Kurniawan
Pemandu wisata sejarah dari Komunitas Heritage Kota Malang, Irawan Paulus (memakai tas pinggang dan topi) memaparkan sejarah tentang Hutan Kota Malabar dan Kampung Interniran, Sabtu (17/10/2020). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Komunitas Heritage Kota Malang mengajak masyarakat berwisata sejarah mengenal Kampung Interniran, Sabtu (17/10/2020).

Dengan membayar sebesar Rp 30.000, masyarakat diajak berkeliling berjalan kaki ke beberapa tempat bersejarah, seperti rumah cagar budaya Jalan Anjasmoro No. 25, Pasar Oro Oro Dowo, Hutan Kota Malabar, Gedung Eks Societet, Gereja Katedral Ijen, dan Simpang Balapan.

Peserta wisata juga dapat menikmati berbagai macam jajanan pasar dan minum teh sepuasnya.

Wisata sejarah yang diikuti delapan peserta tersebut mulai pukul 09.15 hingga 11.30 WIB.

Kegiatan tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan Covid 19.

Peserta wajib memakai masker, cuci tangan setiap memasuki tempat bersejarah, dan selalu menjaga jarak.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak belajar sejarah memahami bahwa dahulu Kota Malang terdapat kawasan yang bernama Kampung Interniran.

"Kampung Interniran merupakan sebutan untuk kawasan yang dahulu menjadi tempat penahanan warga Belanda oleh Jepang."

"Ketika Jepang masuk Indonesia pada tahun 1942, warga Belanda yang ada di Kota Malang dikumpulkan menjadi satu di kawasan sekitar Jalan Ijen."

"Saat itu satu rumah bisa dihuni oleh beberapa keluarga warga Belanda. Ibaratnya warga Belanda itu menjadi tahanan rumah oleh Jepang," ujar Irawan Paulus, pemandu wisata sejarah dari Komunitas Heritage Kota Malang kepada SURYAMALANG.COM.

Irawan menerangkan Jepang juga menerapkan pemisahan penahanan bagi warga Belanda di Kampung Interniran.

"Kawasan Jalan Ijen hanya untuk wanita dan anak anak. Sedangkan untuk laki laki, ditahan di Jalan Bromo," jelasnya.

Irawan tertarik mengangkat tema sejarah tersebut karena hal itu patut untuk dimengerti oleh para generasi muda .

"Generasi muda patut untuk mengingat sejarah ini. Karena sejarah ini merupakan bagian dari sejarah bangsa Indonesia juga."

"Kami berharap usai kegiatan ini, para generasi muda dapat lebih dalam mencintai bangsanya sendiri yaitu bangsa Indonesia," tandasnya.

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved