Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

Petani Apel Batu Tak Untung, Tapi Tetap Pertahankan Ikon Kota

Sejumlah petani apel di Kota Batu dihadapkan pada pilihan yang berat ketika persoalan buah apel menghadapi kompleksitasnya.

SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Kepala Dinas Pertanian Batu, Sugeng Pramono (baju hijau) memasukan buah apel yang terserang mata ayam ke dalam kubangan untuk disanitasi. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Sejumlah petani apel di Kota Batu dihadapkan pada pilihan yang berat ketika persoalan buah yang menjadi ikon Kota Batu itu menghadapi kompleksitasnya. Mulai dari hulu hingga hilir. Mulai dari tanaman apel hingga penjualannya.

Pilihan yang berat itu juga dirasakan Supiono, petani apel asal Desa Bulukerto.

Ia tetap bertahan bertani apel meskipun kondisinya terseok-seok, terutama di saat penghujan seperti saat ini.

‘Pandemi’ mata ayam menyerang hampir sebagian besar petani apel, tak terkecuali lahan milik Supiono.

Sedangkan Supiono tidak ingin berpindah bertani buah yang lain.

Baginya, bertani apel adalah warisan turun temurun dari leluhurnya dan harus dilestarikan. Di samping apel adalah ikon Kota Batu.

Saat musim penghujan, Supiono mengeluarkan banyak biaya untuk menjaga pohon apel tetap berbuah bagus.

Celakanya, tingginya modal tidak sebanding dengan tingginya penjualan.

Supiono mengaku, harga buah apel dari ladangnya bisa dihargai Rp 10 ribu/Kg karena bentuknya lebih besar dari kebanyakan buah. Sedangkan harga pasaran, kisaran Rp 5500 hingga 6000 per Kg.

“Kalau kami memakai kimia yang mahal, per pohon dalam satu musim biayanya hampir Rp 500 ribu. Di ladang saya ada 300 pohon,” aku Supiono.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved