Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

Komnas PA Sebut Sudah Ada 40 Korban JE yang Mengadu

sudah ada 40 korban yang mengadu melalui hotline baik di Polda Jatim maupun Polres Batu terkait kasus dugaan kekerasan anak di Sekolah SPI Batu

Penulis: Benni Indo | Editor: isy
suryamalang.com/Benni Indo
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. 

Berita Batu Hari Ini
Reporter: Benni Indo
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | BATU - Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait, mengatakan hingga Jumat (4/6/2021), sudah ada 40 korban yang mengadu melalui hotline baik di Polda Jatim maupun Polres Batu terkait kasus dugaan kekerasan anak di Sekolah SPI Batu.

Dari jumlah itu, belasan korban sudah menjalani pemeriksaan di Polda Jatim dan melakukan visum.

Arist juga mengatakan bahwa hari ini, Jumat (4/6/2021), ada dua orang kakak beradik yang melapor ke Polda Jatim.

Mereka disebut Arist sebagai saksi kunci karena memiliki bukti-bukti dan keterangan yang menguatkan laporan korban sebelumnya.

“Iya jadi 13 sudah selesai diperiksa. Nah dua kakak-adik ini adalah saksi kunci yang menguatkan keterangan, khususnya pada anak-anak yang kami dampingi. Besok atau lusa akan divisum. Kalau dari hotline, Polda Jatim dan Polres Batu, sudah ada 40-an korban,” ujar Arist melalui sambungan telefon, Jumat (4/6/2021).

Ada dua orang pelapor yang baru ini disebut saksi kunci karena membawa bukti-bukti kuat ke Polda Jatim.

Tidak hanya itu, mereka juga memberikan kesaksian atas pengalaman buruk mereka.

“Membawa bukti dan cerita pengalaman. Bukti banyak hal, kesaksian, testimoni dalam bentuk video. Itu kan dalam satu persyaratan bukti petunjuk boleh. Kesaksian korban, keterangan tertulis,” terangnya.

Arist juga menanggapi pernyataan pengacara JE, Recky Bernadus Surupandy, yang meminta para pelapor bisa membuktikan laporannya.

Ditegaskan Arist, justru yang menjadi dasar laporan Komnas PA ke Polda Jatim adalah bukti-bukti yang kuat dan keterangan langsung dari para korban.

“Bukti kami sangat kuat dan sudah kami serahkan ke Polda. Jadi salah tujuan itu lawyernya kalau saya menunjukan bukti ke dia. Nanti ke pengadilan pembuktiannya, bukan ditunjukan ke pengacara. Jadi bukti-bukti sudah kami sampaikan dan polisi akan melanjutkan itu sampai ke Jaksa. Lalu dibuktikan ke pengadilan,” terangnya.

Bukan bukti-bukti itu saya serahkan kepada mereka.

Karena bukti itu kami anggap kuat, maka kami dampingi dan serahkan ke Polda.

Lalu dibuatkan BAP, dua alat bukti cukup.

Nanti akan diserahkan ke Jaksa.

Komnas PA berkomitmen terus mengawal kasus ini hingga selesai.

Komnas PA juga siap bekerja sama dengan penyidik untuk membuka tabir kasus.

“Kami siap kerjasama dengan penyidik karena mereka yang akan membuka tabir ini. Agar tidak menjadi fitnah, jika ada kekurangan bukti, akan kami lengkapi karena kami membela korban,” paparnya.

Komnas PA juga menggandeng Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban lantaran kasus ini merupakan peristiwa besar dan menjadi isu nasional.

Banyak orang yang menjadi korban terlibat dalam persoalan ini.

"Bisa saja mengancam keselamatan saksi maupun korban. Oleh karena itu, kamu meminta kehadiran negara dalam perkara ini agar sesegera mungkin korban dan saksi bisa dilindungi,” ungkap dia.

Kata Arist, korban dalam kasus ini tersebar di seluruh Indonesia.

Lebih menyakitkan lagi, sebagian besar para korban adalah anak yatim dan dhuafa.

Demi kepentingan dan kebaikan bersama, Komnas PA mengajak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di seluruh Indonesia turut membuka layanan dan posko pengaduan korban Sekolah SPI.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved