Breaking News:

Berita Surabaya Hari Ini

Epidemiolog Unair Dr dr M Atoillah Isfandiari Imbau Tekankan Testing dan Tracing Covid-19 di Madura

Setelah dua minggu seusai libur Lebaran, kasus Covid-19 di Bangkalan Madura melonjak tajam.

Penulis: sulvi sofiana | Editor: isy
sulvi sofiana/suryamalang.com
Epidemiolog Unair, Dr dr M Atoillah Isfandiari MKes, saat memberikan komentar soal lonjakan kasus covid-19 di Bangkalan. 

Berita Surabaya Hari Ini
Reporter: Sulvi Sofiana
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | SURABAYA - Setelah dua minggu seusai libur Lebaran, kasus Covid-19 di Bangkalan Madura melonjak tajam.

Hal tersebut ditunjukkan dengan membludaknya jumlah pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkalan sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. 

Selain itu, terdapat 53 orang yang terkonfirmasi positif setelah mengikuti tes swab di Jembatan Suramadu hingga Selasa (8/6/21) pagi.

Menanggapi hal itu, epidemiolog Unair Dr dr M Atoillah Isfandiari MKes mengungkapkan adanya varian baru yang jauh lebih mudah menular tersebut dapat dipengaruhi oleh mobilitas, terutama antara wilayah Bangkalan dan Surabaya. 

Dengan mobilitas tinggi dapat memberikan risiko penularan tinggi pula untuk kedua wilayah tersebut. 

Kemunculan varian baru diduga dibawa oleh Pekerja Migran Indonesia dari Luar Negeri yang mudik pada saat lebaran. 

Maka dari itu, testing menjadi langkah dasar untuk mengetahui dan melacak masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Setelah dilakukan testing dapat dilakukan pembatasan sesuai dengan hasil testing tersebut.

“Yang penting ditesting dulu kalau ketemu yang positif diisolasi dan ditelusuri domisilinya. Maka daerah sekitar domisilinya itu yang diisolasi. Bisa jadi kalau dari testing itu ketemu positifnya merata dari berbagai kota di pulau Madura pada akhirnya bisa mengarah pada ke karantina wilayah pulau,” ungkapnya.

Bagi Ato, kegiatan testing yang dilakukan di Jembatan Suramadu merupakan sedikit saja gambaran lonjakan Covid-19 dan sedikit upaya untuk meminimalisir persebaran di Surabaya. 

Kegiatan tersebut, ungkapnya, juga harus diimplementasikan untuk kegiatan mobilitas dalam kota untuk mendeteksi dan menggambarkan persebaran di Madura.

Tidak hanya itu, perlu adanya kesadaran bagi masyarakat Surabaya yang telah melakukan perjalanan libur Lebaran atau mobilitas ke Madura untuk melapor ke puskesmas bila ada keluhan kesehatan. 

“Yang terpenting, untuk wilayah Madura jika ada kasus positif dilakukan tracing dalam seminggu ini sudah bertemu dengan siapa saja, termasuk saudara mereka yang mobilitas di Surabaya, sehingga  warga Madura yang ada di Surabaya dapat di-tracing lebih lanjut,” ucap Ato. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved