Breaking News:

Al Quran dan Sains

Al Quran dan Sains: Begini Proses Air Hujan dan Manfaatnya

Al Quran dan Sains: Proses Air Hujan dan Manfaatnya, daur air berasal dari uap air di udara yang membentuk awan, lalu turun ke bumi sebagai hujan

Penulis: Bebet Hidayat | Editor: Bebet Hidayat
Cuplikan Drama Korea The Legend of The Blue Sea
Ilustrasi hujan 

Usahakan tidak mandi hujan atau mengambil air hujan di bulan awal musim hujan karena mengandung polutan berbahaya (kabut asap) yang terbawa saat proses evaporasi di musim kemarau.

Proses Air Hujan menurut Al Quran

Buku tafsir ilmi 'Air dalam Perspektif Alquran dan Sains' yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan proses daur air yang menjadi cikal bakal turunya air hujan.

Dalam Al Quran Surah Ar-Rum Ayat 48 dijelaskan tentang turunnya hujan:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (QS Ar-Rum: 48)

Pun begitu disebutkan dalam Surah Al An 'Am ayat 99:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَاَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًاۚ وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَّجَنّٰتٍ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ اُنْظُرُوْٓا اِلٰى ثَمَرِهٖٓ اِذَٓا اَثْمَرَ وَيَنْعِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكُمْ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS Al An 'am 99)

Daur air bisa diuraikan secara sederhana, yakni uap air di udara, apabila jumlahnya sudah cukup banyak, akan terkumpul menjadi awan.

Lalu uap air di dalam awan sudah mencapai titik jenuh, akan berkondensasi menjadi air yang kemudian jatuh ke Bumi sebagai hujan.

Dikutip dari Tribun Makassar berjudul Tutur Al Quran tentang air, disebutkan dalam bahasa Arab, Urdu dan Hindustan, air dinamakan ab serta abad raho yang artinya salam bagi kemakmuran dan kelimpahan. Elemen itu menegaskan bahwa air menjadi keperluan dasar manusia untuk melanjutkan kehidupan. Apalagi, air menjadi faktor produksi utama dalam pencapaian hasil pangan. Air malahan merupakan matriks budaya.

"Allah menurunkan air dari langit, bumi pun subur menghijau" (al-Hajj: 63). Air merupakan berkah bagi bumi. Tanpa air, tiada makhluk bisa bertahan hidup. Bahkan, dunia pasti terseret kaotis total. Air menjadi kebutuhan utama sekaligus pertama bagi kehidupan. Allah telah menghidupkan bumi dengan mengguyurkan hujan di atas planet ini.

"Allah menurunkan air dari langit. Dengan air itu, Ia menghidupkan bumi sesudah kering-kerontang" (al-Baqarah: 164).

Di bumi ada empat proses siklus air, yaitu penguapan, kondensasi (pengembunan), presipitasi (hujan) dan aliran air. Dari proses tersebut, air lalu terhampar di lautan, danau, sungai serta di bawah permukaan tanah. Hamparan air menandakan bumi siap dihuni. Air merupakan pelindung sejati keanekaragaman hayati.

Dalam bahasa Arab, Urdu dan Hindustan, air dinamakan ab serta abad raho yang artinya salam bagi kemakmuran dan kelimpahan. Elemen itu menegaskan bahwa air menjadi keperluan dasar manusia untuk melanjutkan kehidupan. Apalagi, air menjadi faktor produksi utama dalam pencapaian hasil pangan. Air malahan merupakan matriks budaya.

Allah kemudian menebar segala jenis hewan. Di angkasa, burung beterbangan menghias cakrawala di antara awan-gemawan yang silang-selungkai. Di daratan, hewan-hewan melata berjalan menyusuri tanah sambil bercericip gembira. Di bawah debur ombak nan bergulung-gulung yang diiringi sejuta gelembung buih, ikan pelbagai spesies melaju berkelak-kelok.

Ilustrasi hujan
Ilustrasi hujan (kompas.com)

Dengan air, maka, semua makhluk dapat hidup. Pasalnya, air meregulasi temperatur raga, membawa oksigen serta nutrisi ke segenap bagian badan. Air mengolah makanan menjadi energi.

Di masa sekarang, sejumlah pakar dan aktivis merisaukan kualitas air. Soalnya, kurang dari satu persen air siap pakai di dunia yang layak digunakan untuk kebutuhan. Hingga, forum-forum bertopik air sering membahas penyebaran penyakit terkait air. Mereka juga mencemaskan polusi bahan kimia serta kondisi sungai dan danau di negara berkembang. Tidak mengherankan jika 2,5 miliar orang hidup dengan sanitasi buruk.

Wacana yang sering digembar-gemborkan ialah hemat air. Pada esensinya, irit air bukan sekedar membatasi pemakaiannya. Mandi, misalnya, hanya satu ember. Hemat air luas cakupannya. Sebab, bermakna menjaga ketersediannya saban tahun. Mekanismenya antara lain membangun embung, terasering, sumur resapan, dam pengendali serta rorak. Wadah tersebut akan menghambat aliran air hujan dari hulu ke hilir. Hingga, akan tersedia sepanjang tahun.

Water Wars

"Ia menurunkan kepadamu air dari langit demi menyucikan dirimu" (al-Anfal: 11). Sumber air tawar yang tersedia di dunia cuma 2,5 persen. Dari jumlah itu, tercatat 79 persen berbentuk salju dan lapisan es pada kedalaman tanah di daerah-daerah yang sangat dingin (permafrost). Sumber air tawar lainnya yakni sungai, danau serta rawa yang mencapai satu persen.

Pada 1998, sebanyak 208 negara mengalami krisis air. Menjelang tahun 2025, diprediksi bahwa 2,7 miliar manusia akan kekurangan air. Vandhana Shiva yang menulis kitab Water Wars berfatwa bahwa suatu negara mengalami krisis bila air yang tersedia lebih rendah dari 1.000 meter kubik per orang selama satu tahun.

Citra modern semacam western, sophisticated, rebellion, grand royal, kosmopolitan dan avant garde telah mengubah paras dunia. Sekalipun begitu, air tetap tak berubah perannya bagi manusia. Air justru makin menjadi incaran. Air sebagai blue gold (emas biru) sudah menjadi rebutan di banyak negara. Di dekade mendatang, air diyakini menjadi cairan geopolitik krusial di negara-negara Arab. Sungai Yordan, sungai Tigris, sungai Eufrat maupun sungai Nil kelak menjadi sumber konflik baru.

Pada 1958, Mesir membangun bendungan Aswan. Negara Piramida tersebut lantas mengusir 100 ribu warga Sudan. Ethiopia akhirnya turut geram karena tidak diikutkan soal penjatahan air sungai Nil. Pada 1999, disepakati Prakarsa Lembah Nil (Nile Basin Initiative) mengenai pembagian sumber daya air sungai Nil antara Mesir, Sudan dengan Ethiopia.

Pada 1989, Turki memutus aliran air sungai Eufrat selama sebulan ke Suriah serta Irak. Akibatnya, Suriah dan Irak kelabakan oleh ruang hampa tanpa air. Suriah serta Irak jelas gerah gara-gara tindakan sepihak Turki. Tenggorokan penduduk pun sontak amblas-tandas dalam sekejap oleh dahaga tak terperi.
Pada abad ke-19, terjadi konflik sumber air sungai Tenang. Kala itu, sungai Tenang didistribusikan sebagai air minum ke markas pasukan Hindia Belanda di Fort de Koch (Bukittinggi). Sementara di Pulau Lombok, tiap tahun ada 386 kasus konflik pemakaian air.

Water for Life

"Kami menurunkan air dari langit menurut suatu ukuran" (al-MuÆminun: 18). Water for life atau air bagi kehidupan harus digemakan di sanubari. Dengan demikian, bakal terpatri bahwa air mesti diselamatkan. Pemakaian air tidak boleh mubazir. Walau Indonesia sebagian besar wilayahnya diliputi air, namun, penggunaannya harus efisien. Kendati Indonesia punya enam persen persediaan air dunia, tetapi, tata kelola air mesti apik. Dewasa ini, Indonesia termasuk satu dari 10 negara pemakai air terbesar.

Gerakan hemat air harus gigih digiangkan. Pemegang tampuk kuasa mesti segera bertindak. Tak sepatutnya terkungkung moralitas politik ekonomi. Apalagi, membiarkan politikus sibuk berebut kekayaan dan kekuasaan. Mereka seolah ingin berkuasa seperti Fir'aun, kaya laksana Qarun serta angkuh laiknya George Bush. Arkian, dosanya persis kaum Jahiliah yang bertaklid pada berhala dan ideologi Thaghut. Di sisi lain, mereka berkhotbah di depan rakyat dengan slogan demi kesatuan negara republik, namun, ia tetap menipu sembari merekayasa persoalan bangsa. Sialan.

Kini, harapan besar harus diciptakan bagi ketersediaan air untuk generasi berikut. Semangat never say die alias pantang menyerah dalam mengampanyekan air tidak boleh putus digaungkan. Apalagi, sebagai sumber daya alam, tentu persediaan air terbatas. Air yang menipis akan mempengaruhi kehidupan. Pada periode ini, kebutuhan terhadap penyediaan air terus meningkat untuk industri, pertanian serta pemukiman.

Hari Air Internasional (World Day for Water) yang ditetapkan PBB berdasarkan Resolusi PBB Nomor 47/1993, seyogianya menjadi gong agar bumi tak susut debit airnya. Hari Air layak membakar determinasi tiap relung hati guna meningkatkan kesadaran kalau air mutlak dijaga kelestariannya demi kelangsungan hidup. Hari Air wajib menjadi jihad global buat mengedepankan urgensi keterpaduan yang terkoordinasi dalam pengelolaan sumber daya air.

Air mesti diperlakukan sebagai sumber daya milik umum. Maklum, fungsi air bersifat sosial dan kepunyaan publik (common property). Bukan komoditas ekonomi yang diserahkan kepada pemilik modal (private property). Penguasaan air sebagai hak fundamental korporat justru kian menyengsarakan penduduk dunia. Air menjadi hak tiap warga, bukan kepunyaan institusi dengan warisan naluri purba dari sifat Kabil yang serakah.

Air merupakan anugerah bagi kehidupan. Hatta, di tangan manusia sendiri tergantung pengelolaan air. Distribusi harus efektif, terpadu serta intensif demi menjangkau siapa saja penduduk planet biru ini. Air mesti menjadi bahasa universal untuk saling berbagi guna hidup rukun sebagai masyarakat global. "Kami menurunkan dari langit air yang mengandung berkah (Qaf: 9).

( SURYAMALANG.COM/bet)

Simak Al Quran dan Sains lainnya DI SINI

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved