Selasa, 21 April 2026

Orangtua Murid SMPN 2 Bangil Keberatan Aula Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Terpadu

Para orangtua murid SMPN 2 Bangil serta warga sekitar sekolah menolak rencana menjadikan SMPN 2 Bangil sebagai tempat isolasi terpadu pasien covid-19

Penulis: Galih Lintartika | Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/galih lintartika
SMPN 2 Bangil di Pasuruan yang akan dijadikan tempat isolasi terpadu untuk pasien covid-19. Rencana ini menuai penolakan dari orangtua murid dan warga sekitar sekolah. 

SURYAMALANG, PASURUAN - Rencana Satgas COVID-19 Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, untuk menjadikan aula SMPN 2 Bangil sebagai tempat isolasi terpadu (isoter) mendapatkan penolakan dari warga dan walimurid.

Henry Sulfianto, salah satu wali murid mengaku khawatir stigma tempat isoter ini membuat guru ataupun siswa ketika nanti sudah pembelajaran tatap muka (ptm) ketakutan.

"Jujur saya pribadi keberatan. Saya khawatir nanti kalau COVID-19 sudah mereda, dan kembali PTM, anak - anak ini justru takut masuk aula, karena bekas tempat isolasi," kata Henry saat rapat di Kecamatan Bangil, Kamis (28/7/2021).

Selain itu, ia juga menyanyangkan keputusan yang mengharuskan lembaga pendidikan menjadi tempat isolasi mandiri. Padahal, masih banyak gedung pemerintahan lain yang bisa dimanfaatkan. 

"Ada GOR Raci atau eks RSUD Bangil. Atau Lemcadika di Pogar, Kecamatan Bangil. Ada juga rumah dinas polisi yang tidak digunakan. Kenapa harus mengorbakan lembaga pendidikan," lanjutnya.

Di sisi lain, ia juga kecewa karena Pemkab tidak memberikan jaminan ketika aula sudah tidak digunakan sebagai tempat isoter. "Apa ada jaminan tempat itu bisa steril dan bebas dari virus," lanjut dia.

Henry menyebut, dari beberapa alasan itulah yang mendasarinya untuk mengajukan keberatan dan mendorong Pemerintah untuk mengurungkan rencana aula SMPN 2 Bangil jadi tempat isoter.

Agus salah satu perwakilan warga Kalirejo, Kecamatan Bangil mengungkapkan, sebenarnya warga memang menolak rencana menjadikan SMPN 2 Bangil menjadi isolter. 

"Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, warga khawatir bisa tertular. Lokasinya kan berada dekat dengan pemukiman. Jadi, awalnya memang ada kepanikan dan takut menjadi tempat isolter,” ujarnya. 

Apalagi, kata dia, edukasi yang diberikan Muspika masih minim. pihaknya juga sudah memberi pemahaman. Pelan-pelan warga memang mulai mengerti. Tapi, ada beberapa persyaratan.

“Kalau memang pilihannya di situ, warga berusaha untuk menerima. Tapi, dengan beberapa syarat dan harus dipenuhi secara tertulis. Salah satunya, warga meminta adanya sterilisasi yang berkelanjutan," paparnya.

Terpisah, Camat Bangil Komari menyampaikan, alasan dipilihnya kawasan SMPN 2 Bangil, karena beberapa alasan. Dan ia memastikan, pemilihan ini sudah melalui rapat dan evaluasi yang telah dilakukan. 

"SMPN 2 Bangil memiliki fasilitas penunjang yang memadai, mulai kebutuhan air. Kamar mandi juga tersedia dengan baik. Tempatnya juga asri. Serta akses menuju lokasi, tidak melalui jalan perkampungan," tambah dia.

Ia mengaku, pihaknya sudah melakukan survey di tempat lain, seperti gedung perikanan di wilayah Kalianyar, Bangil. Sayangnya, gedung tersebut belum layak, lantaran ada bagian yang hancur imbas putting beliung.

Komari meyakinkan, pemerintah tidak akan menyelamatkan orang dengan mengorbankan orang lain. Karena itu, sterilisasi secara rutin akan dilakukan. 

"Sistem pembelajaran saat ini, masih daring. Ketika penerapan luring direalisasikan, tentunya gedung tersebut akan dikembalikan seperti asalnya sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan," paparnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved