Jumat, 24 April 2026

5.420 Anak di Jatim Jadi Yatim Piatu Karena Covid-19

Sebanyak 5.420 anak di Jawa Timur terpaksa menjadi yatim piatu karena orangtuanya meninggal lantaran covid-19

Editor: eben haezer
ist/dok.margono
Vino, bocah 10 tahun di Kutai Barat yang jadi yatim piatu setelah orangtuanya meninggal karena covid-19. Dia pun terpaksa menjalani isolasi mandiri sendirian di rumah. Kini Vino dirawat oleh kakek dan neneknya di Sragen, Jawa Timur. 

SRYAMALANG, SURABAYA - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan, (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, menyebutkan, dari Maret 2020 sampai 5 Agustus 2021, sebanyak 21.680 jiwa meninggal dunia akibat paparan Covid 19. 

Kepala Dinas P3AK Jatim, Andriyanto, memaparkan, dari data tersebut, ada 5.420 anak yang menjadi yatim, piatu, maupun yatim piatu karena orangtuanya meninggal terpapar covid-19.

"Ini masih estimasi. Surat sudah kami layangkan ke kabupaten kota untuk pendataan. Tapi Alhamdulillah sudah ada 11 daerah yang telah melaporkan. Tapi nanti kami akan mempercepat supaya tahu pastinya. Kelihatannya, dari data yang masuk mungkin akan lebih banyak dari estimasi kami," ujarnya, Jumat (6/8/2021).

"Kami sudah mengusulkan ke Kementerian PPPA RI dan Pemprov untuk diberikan bantuan spesifik anak. Kemudian diberikan pendampingan psikologi. Kami sudah ada kerja sama dengan IKA Alumni Unair, Himpunan Psikolog Jatim guna melakukan pendampingan," jelas Andriyanto.

"Bahkan nanti kami lanjutkan ke Dukcapil. Kami mohon jemput bola ke anak anak yatim, piatu, dan yatim piatu apakah sudah terurus akta kematian orang tuanya, sudah mempunyai kartu identitas anak atau kartu kelahiran barangkali untuk vaksinasi dan lain sebagainya," lanjutnya.

Selain itu, kata Andriyanto, pihaknya sudah menggelar rapat dengan Unicef dan stakeholder terkait dan lembaga sosial.  Bahkan supaya berkelanjutan, DP3AK juga melakukan peningkatan dan penguatan kapasitas anak. 

"Usia anak 15-18 tahun sama dinas pendidikan sudah dipastikan tetap terus berlangsung pendidikannya. Tetapi kami berikan penguatan kapasitas anak dengan melatih entrepreneurship, kewirausahaan bagaimana membuat sabun, makanan ringan, dll." ucapnya

DP3AK telah berkoordinasi dengan Dinsos guna menyiapkan sebuah tempat untuk dijadikan pelatihan tersebut.

"Kami menghimbau kepada masyarakat bahwa semua anak adalah anak kita. Anak anak kita harus terlindungi karena anak anak sebelum usia 18 tahun masih belum cukup mandiri. Baik secara fisik maupun psikis karena mereka membutuhkan bantuan pengasuhnya," bebernya. 

"Mari kita bersama sama bukan hanya Pemda atau keluarganya saja. Tapi seluruh masyarakat, seluruh elemen bersama sama lindungi anak anak kita," pungkasnya.

Baca juga: Duka Anak-anak Korban Pandemi: Jadi Yatim Piatu dan Harus Isolasi Mandiri Sendirian

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved