Minggu, 17 Mei 2026

Berita Malang Hari Ini

Rumah Teduh Kota Malang, Bantu Pasien Kanker dan Pendamping Peroleh Rumah Singgah

Juwariyah, 67, warga Muncar Banyuwangi, sudah dua pekan tinggal di Rumah Teduh 21 Sahabat Iin di Jalan Pajajaran Kota Malang.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: isy
sylvianita widyawati/suryamalang.com
Tampak depan Rumah Teduh 21 Sahabat Iin di Jalan Pajajaran Kota Malang, Kamis (12/8/2021). 

Berita Malang Hari Ini
Reporter: Sylvianita Widyawati
Editor: Irwan Sy (ISY)

SURYAMALANG.COM | MALANG - Juwariyah, 67, warga Muncar Banyuwangi, sudah dua pekan tinggal di Rumah Teduh 21 Sahabat Iin di Jalan Pajajaran Kota Malang.

Konsep Rumah Teduh adalah semacam rumah singgah untuk pasien kanker dari keluarga tidak mampu.

Yang tinggal di sini diberi tempat untuk tidur dan makan gratis.

Founder Rumah Teduh adalah Iraningsih Achsien dari Bandung.

Selain di Malang, Rumah Teduh ada di Bandung, Sukabumi dan Malang.

Di Malang ada sejak Oktober 2020 di tiga titik dan disiapkan dua ambulans.

Ketika kasus Covid-19 meningkat, pada bagian belakang rumah ini menampung isoman tanpa komorbit yang bisa beraktifitas mandiri.

Menurut wanita ini, ia di Malang karena harus menemani anaknya Siti Romlah, 51, yang harus berobat kanker serviks di RSSA.

Berat baginya jika harus kerap PP Malang-Banyuwangi untuk pengobatan anaknya yang kemungkinan berjangka panjang. 

"Anak saya berobat pakai BPJS di RSSA Malang. Awalnya ada juga yang menawarkan kos dengan biaya di atas Rp 500.000 per bulan. Bagi saya berat. Belum biaya makannya dan beli-beli lainnya," kata Juwariyah pada suryamalang.com saat bersantai.

Ia dan anaknya mendapat tempat tidur yang layak dan mendapat makan gratis. 

"Setiap minggu di sini didrop keperluan memasak. Gas elpiji, sayuran, beras, migor dll. Pendamping pasien yang tinggal di sini akan memasak di dapur dan makan bersama," jelas dia.

Setiap pasien hanya didampingi satu pendamping.

Ia termasuk baru di lokasi, karena ada juga yang sudah enam bulan. 

Dengan adanya rumah singgah, ia senang karena membantu mereka yang tinggalnya di luar Kota Malang sehingga pengobatan anaknya bisa berjalan.

"Saya sepertinya akan tinggal lama di Malang. Sebab pekan depan, anak saya masih baru di USG," jelasnya.

Untuk kebutuhan pribadi anaknya, ia masih membeli popok sekali pakai juga tisu. 

Di Kota Malang, Rumah Teduh ada tiga, sehingga diberi nama nomer 19, 20 dan 21.

Lokasi semuanya tak jauh dari RSSA, rumah sakit rujukan untuk masyarakat Jawa Timur.

Rumah Teduh 21 sebelumnya tempat kursus ternama.

Ketika tutup pada 2019, menurut Edi Junaedi, Koordinator Rumah Teduh Malang, rumah itu dikontrak dari pemiliknya.

"Founder Rumah Teduh adalah pribadi, bukan yayasan," kata Edi pada suryamalang.com.

Rumah itu untuk pasien dan pendamping tinggal sembari kontrol di kesehatan di RSSA.

"Di sini tidak dokter dan nakes. Kami hanya siapkan relawan," jelas pria ini.

Tugas relawan mengantarkan dan mengambil pasien ke dan dari RSSA.

Rata-rata pasien kanker dari luar kota dimana mereka membutuhkan tempat tinggal dan makan.

Sejak Februari 2021, pihaknya ada kerjasama dengan RS terutama untuk pasien tidak mampu akan ditawari tinggal di rumah singgah.

Menurut dia, membawa pasien dan pendamping ke rumah singgah kadang bukan hal mudah.

Sebab ada yang tidak percaya dan ada yang takut harus membayar.

Sedang untuk isoman, dibuka sejak Maret 2021, terutama bagi yang memiliki rumah kecil dari keluarga tidak mampu.

Jika isoman di rumah, dikhawatirkan menular pada anggota keluarga lainnya.

Saat ini jumlah isoman ada delapan orang.

Untuk kapasitasnya 15 tempat tidur.

Namun terjadi peningkatan kasus, maka bisa menampung 50 orang.

Jika terjadi itu, maka pasien kanker dan pendamping bisa dipindahkan ke Rumah Teduh lain yang berkapasitas 18 dan 17 kamar.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved