Breaking News:

Pelecehan Seksual di KPI Pusat

Komnas HAM Mengaku Sudah Terima Laporan Korban Pelecehan Seksual di KPI Pusat Sejak 2017

Komnas HAM mengaku telah mengetahui adanya dugaan pelecehan seksual dan perundungan yang dialami seorang pegawai KPI Pusat berinisial MS sejak 2017

Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: eben haezer
ist
Ilustrasi perundungan 

SURYAMALANG, JAKARTA - Komnas HAM mengaku telah mengetahui adanya dugaan pelecehan seksual dan perundungan yang dialami seorang pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berinisial MS.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara membenarkan pengakuan korban yang telah melapor ke Komnas HAM pada 2017. 

Saat itu, MS sudah disarankan untuk melaporkan kasusnya ke polisi karena Komnas HAM melihat adanya dugaan tindak pidana. 

"Benar bahwa yang ebrsangkutan mengadu ke Komnas HAM via email sekeitar Agustus-September 2017," kata Beka dalam pernyataan tertulis. 

Dia menambahkan, Komnas HAM akan menangani kasus tersebut apabila korban menadu lagi ke Komnas HAM. Selama itu, Komnas HAM juga akan menunggu perkembangan penanganan dari polisi.

Saat ini, Komnas HAM sudah berkomunikasi dengan Komisioner KPI untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Komnas HAM akan menangani kasus tersebut apabila yang bersangkutan mengadu lagi ke Komnas HAM terkait perkembangan penanganan kasus yang ada setelah dari kepolisian maupun pihak lain. Semoga kasus ini segera terang, ketemu solusinya dan korban dipulihkan," pungkasnya.

Baca juga: Salah Satu Pegawainya Jadi Korban Perundungan dan Pelecehan Seksual, Begini Sikap KPI Pusat

Diberitakan sebelumnya, MS mengaku menjadi korban perundungan, pelecehan seksual, serta penganiayaan selama bertahun-tahun di kantor KPI Pusat. Dia menyebut, pelecehan seksual itu dilakukan oleh sejumlah karyawan senior mulai 2012.

“Sepanjang 2012-2014, selama 2 tahun saya dibully dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama sama mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya. Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tapi mereka secara bersama sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh.

MS mengaku bekerja di KPI Pusat sejak 2011. Dia mengaku sudah tak terhitung berapa kali perundungan itu dilakukan terhadapnya tanpa bisa dia lawan.

“Tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencoret buah zakar saya memakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat? Sindikat macam apa pelakunya? Bahkan mereka mendokumentasikan kelamin saya dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online,” tulisnya.

Akibat perundungan dan pelecehan seksual itu, MS mengalami stres dan trauma berat. Namun dia memilih tetap bertahan di KPI karena harus mencari nafkah.

“Kadang di tengah malam, saya teriak teriak sendiri seperti orang gila. Penelanjangan dan pelecehan itu begitu membekas, saya tak sama lagi usai kejadian itu, rasanya saya tidak ada harganya lagi sebagai manusia, sebagai pria, sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga. Mereka berhasil meruntuhkan kepercayaan diri saya sebagai manusia,” tuturnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved