Breaking News:

Travelling

Jenang Sapar Sebagai Bentuk Syukur Atas Hasil Bumi Melimpah dan Sebagai Tolak Balak

Jenang sapar menjadi kuliner untuk merayakan Bulan Safar, termasuk di Kampung Karamba, Kelurahan Ditotrunan, Lumajang.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Danendra Kusuma
Jenang sapar sebagai bentuk syukur atas melimpahnya hasil bumi, terawatnya kedamaian, dan sebagai menolak balak. 

SURYAMALANG.COM, LUMAJANG - Jenang sapar menjadi kuliner untuk merayakan Bulan Safar, termasuk di Kampung Karamba, Kelurahan Ditotrunan, Lumajang.

Bahan dasar jenang sapar adalah beras ketan.

Sajian kuliner ini mirip seperti bubur.

Warga Kampung Karamba, Sutiyanah mengatakan masyarakat rutin menggelar tradisi ini setiap tahun.

Warga satu RW selalu bergotong royong membuat jenang sapar.

"Kebetulan kami mendapat bagian minggu pungkasan. RT lain sudah mendahului," kata Sutiyanah kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (3/10/2021).

Warga bergotong royong membuat jenang sapar.

Warga mengenakan pakaian jadul adat jawa selama membuat jenang sapar.

Memasak jenang pun menggunakan tungku.

Jenang sapar disajikan di daun pisang.

Bagi masyarakat Jawa, jenang safar sebagai syukur atas melimpahnya hasil bumi, terawatnya kedamaian, dan sebagai tolak balak.

"Budaya Jawa perlu dilestrikan agar tetap berlanjut dan lestari," terangnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved