Breaking News:

Berita Malang Hari Ini

Dosen ITN Malang Bikin Mesin Grinder untuk Membantu Usaha Jamu

“Selama ini mitra kami saat membuat jamu ditumbuk memakai lumpang dari batu. Cara konvensional ini membutuhkan waktu lama"

Dosen ITN Malang membantu usaha jamu "Berkah Bumi" berupa mesin grinder. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan usahanya. Produk jamu ini ada di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang yang diproduksi Ibu Kus. Untuk menjaga resep turun temurun dari keluarga, ia menggunanakan alat tradisional berupa lumpang yang terbuat dari batu. 

SURYAMALANG.COM|MALANG-Dosen ITN Malang membantu usaha jamu "Berkah Bumi" berupa mesin grinder. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan usahanya. Produk jamu ini ada di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari yang diproduksi Ibu Kus.

Untuk menjaga resep turun temurun dari keluarga, ia menggunanakan alat tradisional berupa lumpang yang terbuat dari batu.

Dengan potensi usaha jamu tradisional yang bisa mendukung arah pengembangan desa, maka tiga dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) membantunya.

Mereka adalah Djoko Hari Praswanto ST MT (dosen Teknik Mesin S-1), Dra Siswi Astuti MPd (dosen Teknik Kimia S-1), dan Awan Uji Krismanto ST MT PhD (dosen Teknik Elektro S-1). 

Lewat pengabdian masyarakat dengan teknologi tepat guna berupa mesin grinder jamu, maka bisa memiliki efisiensi kerja. 

“Selama ini mitra kami saat membuat jamu ditumbuk memakai lumpang dari batu. Cara konvensional ini membutuhkan waktu lama. Bahkan bisa sampai lima jam sekali produksi," jelas Djoko, Senin (10/1/2022).

Dengan memakai mesin grinder, maka efektif di waktu serta lebih higienis dari pada ditumbuk, lanjurtnya. Ada lima varian produk jamunya. Yaitu temulawak, sinom, beras kencur, kunyit asam, lempuyang, dan beberapa jenis jamu dari rempah-rempah lainnya.

Meskipun permintaan jamu meningkat, namun belum bisa memenuhi permintaan dikarenakan dalam pembuatan jamu masih tradisional.

Sebab prosesnya butuh waktu lama dan menguras tenaga. Sehingga dalam seminggu hanya bisa berproduksi tiga hari. Dengan mesin grinder dalam satu minggu.

Dengan mesin grinder jamu ini, Joko mengharapkan jamu bisa diproduksi setiap hari. Karena pandemi, maka hasil jamunya dijual keliling. Sedang sebelum pandemi bisa dititipkan ke sekolag-sekolah.

Mesin grinder jamu i berukuran 45 x 15 cm dengan memakai material rangka plastik/pipa berdiameter 3 dim. Ditambah mesin penggiling, yang cara kerjanya mirip slow juicer.

Rempah-rempah dimasukkan dari atas, maka mesin akan bekerja memeras secara horizontal. Ampasnya kemudian dibuang ke kiri mesin grinder, sedangkan cairan keluar dari bawah. 

Kedepannya, dosen ITN Malang juga akan membantu dalam pengembangan jamu bubuk instan, serta membimbing mitra dengan mengurus ijin PIRT.

“Nanti, kami juga akan membantu bagaimana cara mengurus ijin PIRT. Sedangkan untuk ekstrak jamu instan akan ada penelitian yang mengembangkan ke arah sana," kata Djoko. Jika ada PIRT-nya, maka produk jamu bisa dititipkan ke pasar modern atau swalayan. Sylvianita Widyawati

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved