Berita Batu Hari Ini

Sidang Perdana JE Diwarnai Aksi Unjuk Rasa, Tuntut Terdakwa Ditahan

Pemilik SMA Selamat Pagi Indonesia, Julianto Eka Putra menjalani sidang perdana kasus dugaan tindak pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak

Proses persidangan JE di Pengadilan Negeri Malang. 

SURYAMALANG.COM|BATU – Pemilik SMA Selamat Pagi Indonesia, Julianto Eka Putra menjalani sidang perdana kasus dugaan tindak pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak di Pengadilan Negeri Malang, Rabu (16/2/2022).

Sidang perdana ini memiliki agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). JPU yang menuntut terdiri atas jaksa dari Kejati Jatim dan Kejari Batu.

Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diwakili Edi Sutomo mengatakan pihaknya membacakan dakwaan yang disangkakan untuk terdakwa yaitu bentuk alternatif pasal 81 Jo Pasal 76D atau pasal 82 Pasal 76E UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan PP pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU pasal 64 KUHP.

"Dari pasal yang kita sangkakan terdakwa terancam hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun,” ujarnya.

Edi mengatakan, sidang kedua akan digelar kembali Rabu pekan depan pukul 10.00 Wib. Dalam sidang nanti JPU juga bakal menghadirkan tiga  saksi yang masuk dalam BAP.

Kuasa hukum terdakwa, Jeffry Simatupang mengatakan semua tuduhan yang selama ini dilayangkan kepada kliennya tidak benar. Dirinya percaya dirinya tuduhan terhadap kliennya tersebut tidak benar.

"Kita akan membuktikan segala tuduhan yang ada bahwa itu tidak benar. Nanti kita buktikan di proses persidangan. Hal itu terlihat dari fakta praperadilan yang sebelumnya pernah diajukan tidak ditemukan perbuatan yang telah disangkakan selama ini," kata Jeffry.

Jeffry mengatakan, dari fakta-fakta praperadilan, pihaknya menemukan bahwa perbuatan itu tidak ada, tidak ada saksi yang melihat, mendengar, maupun mengalaminya. Lalu dari hasil visum yang ada menurutnya juga tidak bisa untuk membuktikan kejadian pada masa lampau.

Bukti lain yang akan ditunjukkan saat di pengadilan adalah soal pelapor yang pamit kepada para saksi untuk tour di hotel wilayah Madiun bersama pacarnya.

Jeffry meminta publik menunggu hasil sidang dan tidak berspekulasi mengenai kasus ini. Pihaknya tetap akan mengikuti proses hukum yang telah dijadwalkan.

“Kepada masyarakat dan seluruh, kami yakin saudara JE tidak melakukan perbuatan seperti yang didakwakan. Kami memegang bukti-bukti itu. Nanti biar dibuktikan di persidangan,” tegasnya.

Sidang ini diwarnai aksi unjuk rasa. Massa aksi berasal dari MPC Pemuda Pancasila Kota Malang, Aliansi Mahasiswa Malang, Komunitas Pemerhati Perempuan dan Anak, juga organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan yakni Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem).

Koordinator aksi, Fuad Dwiyono mendesak agar penegak hukum menahan terdakwa dan hakim dapat menghukum seberat-beratnya.

Menurutnya, yang dilakukan terdakwa merupakan kejahatan luar biasa kepada anak di bawah umur.

“Kita ingin predator anak ini dihukum seberat-beratnya. Sebab aksi kekerasan seksual yang dilakukan terdakwa sangat meresahkan,” ujar Fuad.

Beberapa poster juga dibentangkan di depan PN Malang bertuliskan. Poster-poster itu bertuliskan 'Hukum berat kejahatan seksual', 'Kejahatan seksual harus diadili', 'Tangkap dan tahan JE', dan sebagainya. Aksi ini mendapatkan pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polresta Malang Kota.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved