Berita Malang Hari Ini

Bahasa Daerah Terancam Punah, Kemendikbudristek Siapkan Program Revitalisasi

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Namun sebagian besar kondisinya terancam punah dan kritis.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
Humas Kemendikbudristek
Mendikbudristek saat kegiatan daring revitalisasi bahasa daerah, Selasa (22/2/2022). 

Sedang model B adalah mana karakteristik daya hidup bahasanya tergolong rentan, jumlah penuturnya relatif banyak dan bahasa daerahnya digunakan secara bersaing dengan bahasa-bahasa daerah lain. 

Pendekatan pada model ini adalah pewarisan dapat dilakukan secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah jika wilayah tutur bahasa itu memadai dan pewarisan dalam wilayah tutur bahasa juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis komunitas.  

Kemudian, model C, dimana karakteristik daya hidup bahasanya kategori mengalami kemunduran, terancam punah, atau kritis, serta jumlah penutur sedikit dan dengan sebaran terbatas.

Pendekatan yang dilakukan pada model ini adalah pewarisan dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis komunitas untuk wilayah tutur bahasa yang terbatas dan khas.

Pengalaman Guru Bahasa Jawa

Sementara itu, guru Bahasa Jawa SMPN 4 Kota Malang, Ahmad Emir Selby Nasrullah memberikan pengalaman mengajar pada siswanya.

"Pengalaman saya mengajar bahasa Jawa ke siswa itu tantangannya karena kurangnya literasi pada siswa mengenai bahasa Jawa itu sendiri," jelas Emir, Rabu (23/2/2022). 

Karena hal itu, maka ia juga merasa susah-susah gampang ketika menggunakan bahasa Jawa dalam pembelajaran. Hal ini karena  siswa yang terbatas akan kosakata bahasa Jawa.

"Di sisi lain juga ada siswa yg bukan asli orang Jawa. Faktor lainnya mungkin pada bahasa ibu sehari-harinya juga yang menggunakan bahasa Indonesia ada pengaruh juga dalam pembelajaran bahasa Jawa," papar dia.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 dan kemudian ada pembelajaran daring, menurut dia agak susah saat ada materi aksara Jawa.

"Itu materi tersulit bagi siswa," ungkapnya.

Maka saat mengajar daring, ia lebih ke interaksi pada siswa menggunakan bahasa Jawa yang formal (bukan dialek).

Tujuannya agar siswa tidak begitu asing dengan bahasa Jawa. Ia juga mencampur dengan bahasa Indonesia karena ada siswanya yang bukan orang Jawa.

"Kalau ditanya bagaimana cara pengajaran bahasa Jawa secara daring yang efektif, menurut saya tidak sepenuhnya akan efektif karena mungkin ada kendala seperti sinyal atau yg lainnya," papar Emir.

Menurut ia pribadi, untuk pembelajaran online mungkin lebih ke interaksi pada siswa, mengajak siswa untuk saling sharing, dan tidak lupa juga disisipi materi.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved