Senin, 13 April 2026

Kisah Nelayan NTT, Berhasil Selamat Tiga Hari Terombang-ambing di Perairan Australia

hampir 24 jam setelah terjangan badai, para nelayan yang masih berpegangan pada kayu rakit mulai kelelahan,satu per satu nelayan pun mulai berteriak

Editor: rahadian bagus priambodo
(Dokumen SAR Kupang)
Kapal milik nelayan asal NTT tenggelam di perairan Australia 

SURYAMALANG.COM - Perahu motor mengangkut 12 nelayan asal Desa Hundihuk, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), tenggelam di perairan Australia.

Peristiwa naas pada Kamis, 17 Maret 2022, itu menelan cukup banyak korban. Sembilan korban meninggal, serta tiga lain selamat dengan satu orang di antaranya masih kritis hingga kini.

Diberitakan Kompas.com (21/3/2022), Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang (SAR) Emi Frizer mengatakan, informasi perahu tenggelam pertama kali disampaikan otoritas Australia.

Berikut sederet fakta perjuangan nelayan NTT terombang-ambing bertahan hidup di tengah lautan Australia selama tiga hari.

Badai siklon tropis terjang perahu Badai Siklon Tropis menerjang perahu motor yang ditumpangi 12 nelayan asal NTT, Kamis (17/3/2022) pukul 23.30 Wita.

Akibat terjangan badai, badan perahu pecah, hancur, dan satu demi satu bagian perahu mulai hanyut.

Di tengah gelapnya malam, para nelayan berjuang merakit tiang dan kayu perahu yang hancur dengan jaring ikan untuk digunakan sebagai pegangan agar tidak tenggelam.

“Mereka memanfaatkan tiang dan kayu kapal yang hancur, mengikat satu sama lain dengan alat jaring. Para nelayan berpegangan di rakit buatan itu,” kata Yunus Modokh, Kepala Desa Hundihuk, sebagaimana dikutip Harian Kompas.

Terombang-ambing selama 3 hari 3 malam Hingga keesokan hari pada Jumat (18/3/2022), belum juga ada tanda-tanda kapal lewat yang bisa menyelamatkan mereka.

Sekitar pukul 23.00 Wita, hampir 24 jam setelah terjangan badai, para nelayan yang masih berpegangan pada kayu rakit mulai kelelahan.

Satu per satu nelayan pun mulai berteriak, mengerang, dan mengeluh lapar.

Gemuruh gelombang dan arus laut yang dahsyat membuat jeritan mereka malam itu terdengar samar-samar.

Hingga lambat laun, mulai menghilang. “Mereka kehabisan napas, tenaga, dan perjuangan sehingga tenggelam. Mereka meninggal dunia, lalu hilang di dalam laut,” kata Modokh.

Beberapa nelayan yang telah meninggal diikat di kayu rakitan, tetapi terjangan ombak terus-menerus membuatnya terlepas dan hanyut dalam lautan.

Hingga Minggu dini hari, yang terlihat hanya Habel Kanuk (44), Melki Giri dan Riki Balu (17).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved