Cara Sehat Makan Gorengan Menurut Ahli Gizi Universitas Airlangga

Ahli Gizi Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh SKM Mkes mengingatkan cara mengkonsumsi gorengan yang aman dan sehat.

Gorengan Tempe 

SURYAMALANG.COM|SURABAYA– Masyarakat Indonesia telah terbiasa menjadikan gorengan sebagai menu andalan berbuka puasa ataupun takjil, karena rasanya yang renyah, gurih dan pembuatannya  yang mudah. 

Untuk itu, Ahli Gizi Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh SKM Mkes mengingatkan cara mengkonsumsi gorengan yang aman dan sehat.

Menurutnya makanan tersebut perlu diperhatikan rentang waktu dan jumlah konsumsinya. Lantaran hal yang dibutuhkan tubuh saat berbuka puasa adalah minuman untuk menghidrasi dan karbohidrat sederhana untuk meningkatkan kadar glukosa tubuh.

“Gorengan dapat dikonsumsi setelahnya, dalam jumlah tidak berlebihan, cukup satu sampai dua saja, dan itupun tidak setiap hari,” tutur dosen gizi Unair ini.

Lebih lanjut, Lail menyarankan ada baiknya mengkonsumsi  sayuran dan buah yang berserat tinggi. Agar dapat menghambat penyerapan lemak.

Apalagi pada gorengan yang bertepung, sambungnya, karena tepung bersifat menyerap minyak. Artinya cenderung mengandung banyak lemak.

Di samping itu kebutuhan lemak pada tubuh lebih banyak dibandingkan protein. “Sekitar 20 sampai 30 persen dari total kalori kebutuhan kita berasal dari lemak,” ungkapnya.

Namun, yang dibutuhkan oleh tubuh adalah lemak yang baik. Misalnya yang berasal dari omega 3 dan omega 6. Lail pun menyebut beberapa contoh makanan yang mengandung lemak baik.

“Seperti halnya ikan salmon, tuna, alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun, telur, keju, dan yoghurt.  Selama dikonsumsi sesuai kebutuhan, maka akan berdampak baik untuk kesehatan,” imbuhnya.

Selanjutnya, dosen yang hobi kuliner itu juga menegaskan jika terlalu sering mengkonsumsi gorengan dapat membahayakan kesehatan. Terlebih jika kualitas minyaknya sudah terpakai berulang kali sehingga warnanya coklat kehitaman.

Pada prosesnya pemakaian minyak yang berulang atau minyak jelantah. Lemaknya akan berubah menjadi lemak trans dari lemak jenuh. Proses tersebut mengubah struktur kimia lemak,  sehingga lebih sulit dicerna.

“Minyak juga mengalami oksidasi dan membentuk radikal bebas yang dapat meningkatkan risiko penyakit seperti jantung, stroke, kanker, diabetes mellitus tipe 2, serta obesitas,” paparnya.

Sumber: surya.co.id
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved