Berita Jember Hari Ini

Dosen Universitas Jember Olah Limbah Kulit Kopi Menjadi Energi Terbarukan

Dosen Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember mengolah kulit kopi menjadi bahan bakar alternatif terbarukan

surya.co.id/sri wahyuni
Dosen dan Peneliti FTP Unej Soni Sisbudi Harsono menunjukkan cara mengolah limbah kulit kopi dalam pelatihan kepada kelompok tani kopi 

SURYAMALANG.COM|JEMBER -  Kulit kopi bisa diolah menjadi sumber bahan bakar alternatif terbarukan yakni biopellet. Biopellet juga bisa menjadi solusi atas limbah kulit kopi. 

Solusi mengatasi limbah kulit kopi ditawarkan oleh dosen dan peneliti dari Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej), Dr Ir Soni Sisbudi Harsono MEng MPhil.

Apalagi Kabupaten Jember yang menjadi lokasi Unej berada, dan beberapa kabupaten di sekitarnya merupakan sentra penghasil kopi. Jember dikenal sebagai sentra penghasil kopi robusta, sedangkan Kabupaten Bondowoso, tetangga Jember, dikenal sebagai produsen kopi arabica. 

Seiring tumbuhnya trend penikmat kopi, para petani kopi juga mengolah biji kopi mereka menjadi bubuk. Olahan bubuk kopi ini untuk memenuhi permintaan pasar, seperti kedai kopi. 

Sementara 39 persen olahan kopi itu menyisakan limbah kulit. 

Selama ini kulit kopi hanya dimanfaatkan sebagai pupuk oleh petani, namun dengan berkembangnya produksi kopi maka jumlah limbah ini pun menjadi masalah.

Soni lantas menawarkan solusi melalui pengolahan limbah kulit kopi tersebut.  Berdasarkan riset yang dilakukannya, limbah kulit kopi bisa diolah menjadi sumber bahan bakar alternatif terbarukan berupa biopellet.

Harapannya, biopellet dari limbah kulit kopi menjadi solusi mengatasi dampak buruk limbah kulit kopi bagi lingkungan, sekaligus mendorong kemandirian warga desa dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar mengingat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah naik. 

“Kulit kopi itu bersifat asam sehingga dalam jumlah banyak tidak bagus bagi kondisi tanah dan air," tutur Soni, Kamis (29/9/2022). 

Biasanya petani menumpuk begitu saja limbah kulit kopi di pojokan kebun atau di tepi aliran sungai. Sementara untuk mengolah kulit kopi menjadi pupuk perlu waktu, karena perlu tahapan dekomposisi. 

Menurutnya, paling tidak tiga sampai empat bulan baru limbah kulit kopi baru bisa diolah menjadi pupuk. 

"Jadi bayangkan jika limbah kulit kopi dalam jumlah banyak berada di satu lokasi dalam jangka lama, maka akan mengganggu ekosistem di wilayah tersebut. Belum lagi dengan polusi bau busuk sangat mengganggu warga, bahkan bisa mengganggu kesehatan,” imbuh Soni. 

Pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi biopellet sebagai bakar alternatif terbarukan dipilih karena proses pembuatannya mudah dan murah.

Secara garis besar,  kulit kopi dijemur hingga kadar airnya berkurang hanya menjadi 12 persen saja. Kulit kopi yang sudah kering kemudian ditumbuk dan dihaluskan hingga mirip seperti tepung. Lalu siapkan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dengan air secukupnya untuk dibuat sebagai lem kanji. 

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved