Berita Surabaya Hari Ini

Trik Main Sepak Bola Api Supaya Kaki Tahan Panas

Para pecinta sepak bola api, Reza Ahmad Zahid dan Sugiarto Wijono, ketika ditemui di Surabaya, Minggu (27/11/2022), mengungkapkan sejumlah kiat.

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Yuli A
febrianto ramadani
Para pecinta sepak bola api, Reza Ahmad Zahid dan Sugiarto Wijono, ketika ditemui di Surabaya, Minggu (27/11/2022), mengungkapkan sejumlah kiat dan persiapan sebelum memulai olahraga sepak bola api. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Sepak bola api berbeda dengan sepak bola pada umumnya. Permainan ini, selain menyenangkan, juga sangat menantang bagi mereka yang tertarik untuk memainkannya.

Olahraga yang identik dengan mengolah kulit bundar memang sangat menyenangkan. Akan tetapi, bagaimana kalau bola yang digunakan untuk sepak bola api terbuat dari dari batok kelapa tua yang sudah dibuang kulit luarnya. Kemudian, batok itu direndam di dalam minyak tanah beberapa hari dengan tujuan agar minyak dapat meresap ke dalam batok.

Para pecinta sepak bola api, Reza Ahmad Zahid dan Sugiarto Wijono, ketika ditemui di Surabaya, Minggu (27/11/2022), mengungkapkan sejumlah kiat dan persiapan sebelum memulai olahraga sepak bola api.

Menurut Reza yang pertama dilakukan adalah berdoa dulu sebelum bertanding. Layaknya sepak bola biasanya, ada dua tim yang bertanding dalam permainan ini. 

"Biasanya, tiap-tiap tim beranggotakan lima orang, walaupun terkadang lebih dari itu, dengan mengikuti kesepakatan di antara kedua belah pihak tim yang akan bertanding," tuturnya.

Sebelum bermain, lanjut Reza, kedua tim yang bertanding memanjatkan doa terlebih dahulu agar diberi keselamatan. Bahkan ada yang melakukan ritual puasa beberapa hari sebelum pertandingan. Hal ini dilakukan agar mereka mendapatkan perlindungan dari Tuhan.

"Biasanya, para pemain mengoleskan minyak kelapa ke tangan dan kakinya, hal ini dilakukan agar dapat mengurangi rasa panas bola api. Ketika batok kelapa sudah siap dipakai, maka dibakarlah dan bersiaplah kedua tim untuk bertanding," terangnya.

Dirinya menerangkan, pertandingan ini dimainkan oleh laki-laki dewasa. Walaupun terkadang perempuan juga tertarik untuk ikut bermain. Adapun bagi anak-anak kecil, permainan ini tidak diperkenankan karena dianggap sangat berbahaya.

Sementara lapangan yang dipakai untuk bertanding relatif lebih kecil dari lapangan sepak bola biasanya. Ukuran lapangan yang dipakai biasanya sama lebarnya dengan lapangan futsal. Para pemain biasanya juga tidak memakai alas kaki sehingga membuat permainan menjadi lebih menantang. 

"Tidak ada durasi yang pasti untuk permainan ini, melainkan berdasarkan kesepakatan di antara kedua tim. Dan, tim yang mencetak gol terbanyak akan menjadi pemenangnya. Lebih baik permainan Sepak Bola Api ini dimainkan di malam hari, agar nyala api tampak lebih jelas, dan tentunya lebih menarik," bebernya.

Di tempat yang sama, Sugiarto menambahkan, biasanya permainan sepak bola api ini dijadikan rutinan olahraga dan hiburan bagi santri di pondok pesantren.

Sugiarto yang merupakan seorang keturunan Tionghoa berasal dari Surabaya, menerangkan, melihat bola api yang membara, kedua tim tampak semangat dan antusias dalam bermain. 

"Mereka seakan lupa akan panasnya bola api dan tersihir oleh asyiknya permainan sehingga saling berebut bola api untuk dimasukkan ke gawang lawan," terangnya.

"Rasa kekeluargaan sangat terasa hangat selama permainan berlangsung, seakan tidak ada sekat antara pemain, baik sekat suku bangsa, budaya ataupun agama. Dari para pemain, ada yang bersuku Jawa, Madura, Sunda, Sasak, bahkan ada yang bersuku bangsa Tionghoa," imbuhnya.

Permainan sepak bola api, kata dia, sebenarnya bukan hanya sekedar permainan. Akan tetapi penuh dengan pelajaran, karena dapat menjadikan orang bertambah nyali dan berani, pandai dalam berstrategi, kompak dalam bertindak dan tentunya dapat menambahkan sikap toleran dan persaudaraan. 

"Di samping itu semua, panasnya bola api juga mengingatkan kepada para pemain tentang panasnya api neraka. Dengan demikian para pemain dapat mengambil hikmah untuk selalu menjauhi larangan-larangan Tuhan, agar terjauhkan dari siksa api neraka," pungkasnya.

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved