Berita Malang Hari Ini

Kerajinan Gerabah Terancam Punah, Generasi Muda Lebih Pilih Pekerjaan Praktis

Suhartoko (68) merupakan generasi ke-4 usaha gerabah di Sentra Industri Gerabah Penanggungan, Kota Malang.

Editor: Zainuddin
Septyana Cahyani Eka Saputri
Toko gerabah di Jalan Mayjend Panjaitan, Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG – Suhartoko (68) merupakan generasi ke-4 usaha gerabah di Sentra Industri Gerabah Penanggungan, Kota Malang.

Suhartoko mewarisi usaha milik keluarganya yang diturunkan dari mbah buyutnya.

Kini Ketua Kelompok Kampung Sentra Industri Gerabah Penanggungan itu kebingungan mencari penerus usaha turun-temurun di Jalan Mayjend Panjaitan Gang 19 tersebut.

"Saya belajar teknik pembuatan gerabah itu turun-menurun, mulai dari mbah buyut saya," ujar Suhartoko kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (29/11/2022).

Sentra Industri Gerabah Penanggungan telah ada sekitar tahun 1960.

"Mayoritas warga kampung ini membuat gerabah. Dulu pembuat gerabah sangat ramai. Sekarang sepi, baik produksinya maupun penjualannya," tutur Suhartoko.

Produksi gerabah sepi karena regenerasi muda tidak ada yang mau belajar dan melestarikan tradisi pembuatan gerabah.

"Generasi muda tidak ada yang mau belajar pembuatan gerabah. Akhirnya, pembuatan gerabah hanya berhenti di saya. Banyak orang sepuh sudah meninggal. Sekarang hanya tinggal beberapa orang," ungkapnya.

"Generasi muda lebih memilih pekerjaan yang praktis, seperti penjaga toko atau karyawan kantor. Kalau membuat gerabah kan proses pembuatannya butuh waktu lama," lanjutnya.

Enam mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sempat belajar membuat gerabah pada beberapa bulan lalu. Tapi, generasi muda di Kampung Sentra Industri Gerabah Penanggungan kurang tertarik membuat gerabah.

"Membuat gerabah harus dari hati dan butuh niat," lanjutnya.

Suhartoko menyebut penjualan merosot sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020.

"Saya tidak ada pekerjaan lain selain mengandalkan hasil dari gerabah," lanjutnya.

Sekarang Suhartoko hanya mmebuat gerabah sesuai pesanan. Biasanya pelanggan memesan untuk souvenir pernikahan.

Suhartoko mematok harga antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000 untuk souvenir pernikahan, dan Rp 600.000 sampai Rp 700.000 untuk vas bunga.

"Jika gerabah vas bunga dijual dengan harga tinggi, tidak akan laku di pasaran," imbuhnya.(Septyana Cahyani Eka Saputri)

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved