UPDATE Kasus Teh Sianida Tewaskan Satu Keluarga di Magelang, Ini Perilaku Anak Kedua yang Beri Racun

Sikap dan perilaku anak kedua atau anak bungsu yang tega menghhabisi nyawa ayah, ibu dan kakak perempuannya itu berubah pasca kecelakaan

Penulis: Dyan Rekohadi | Editor: Dyan Rekohadi
KOLASE - SURYAMALANG.COM/Dyan Rekohadi /Tribun Jateng
Sosok DDS atau Dhio pelaku yang tega membunuh orangtua dan kakak kandungnya sendiri dengan memberi racun minuman (foto kiri). Foto suasana rumah TKP kasus teh sianida yang menewaskan 3 orang dalam satu keluarga di Magelang , Selasa (29/11/2022) (foto kanan) 

SURYAMALANG.COM , MAGELANG -  Kasus pembunuhan satu keluarga di Magelang yang diduga karena minuman teh sianida dan es kopi yang diberi racun oleh anak kedua tengah ditangani Polresta Magelang.

Polresta Magelang telah menetapkan DDS (22), adik dan anak dari para korban, sebagai  tersangka pembunuhan tiga anggota keluarga di Dusun Prajen, Desa Mertoyudan, Kabupaten Magelang, pada Selasa (29/11/2022).

DDS atau Dhio tega membunuh ayah, ibu dan kakak perempuannya dengan cara memberi racun pada minuman.

Baca juga: Efek Teh Sianida di Kasus Sekeluarga Tewas di Magelang Begitu Mematikan, Pantas Anak Tolak Autopsi

Ayah DDS, Abbas Ashari sebelumnya ditemukan tak berdaya di rumah dan dinyatakan meninggal meninggal dunia bersama istrinya bernama Heri Riyani (54) dan anak perempuan pertama Dhea Chairunisa (25), Senin (28/11/2022) pagi.

Penetapan status tersangka kepada DDS cukup mengejutkan banyak pihak, baik pihak keluarga maupun tetangga dan kerabat.

Meski demikian pihak keluarga dan beberapa pihak juga menilai ada perilaku tersangka yang belakangan berubah.

Perilaku DDS dinilai mulai berubah pasca ia mengalami kecelakaan.

Sikap dan perilaku anak kedua atau anak bungsu yang tega menghhabisi nyawa ayah, ibu dan kakak perempuannya itu salah satunya diungkap oleh guru mengajinya, Ahmad Anwari.

"Saya tidak menyangka anak ini melakukan ini. Dari kecil saya mengajar dia mengaji. Anaknya itu sebenarnya apik, saya ya kaget tau-tau anaknya seperti itu. Orangtuanya juga apik, keluarganya sangat apik," ujar Ahmad Anwari. dengan nada kecewa.

Saat mengetahui bahwa tersangka pembunuhan tiga anggota keluarga itu adalah DDS, dirinya pun langsung lemas.

Dia tak menyangka anak didiknya yang dikenalnya sebagai anak baik hati, berubah menjadi sosok pembunuh sadis.

"Ya Allah, langsung lemes soalnya cah apik (anak baik) itu. Soalnya anaknya apik itu sedikit pun saya tidak curiga.Semalam pas ibunya semaput dia itu sempat ibu ini kenapa, pas dawet itu. Lalu, pas ayahnya keracunan dia juga sempat menolong, tidak ada curiga,"tuturnya.

Namun dirinya mengakui, sifat tersangka DSS mulai berubah sejak lulus sekolah menengah atas (SMA). 

 Terlebih, setelah dirinya mendapat kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan beberapa jarinya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved